Jakarta (tutur.co.id) — PT Pemeringkat Efek Indonesia mencatat total mandat penerbitan surat utang korporasi yang masuk dalam pipeline mencapai Rp66,28 triliun per 31 Maret 2026. Nilai tersebut berasal dari rencana aksi 45 perusahaan yang tengah bersiap menghimpun dana melalui instrumen utang di pasar modal.
Besarnya pipeline ini mencerminkan masih kuatnya kebutuhan pendanaan korporasi di tengah dinamika suku bunga dan ketidakpastian global. Aktivitas ini juga menjadi sinyal bahwa pasar surat utang tetap menjadi alternatif strategis bagi perusahaan dalam menjaga ekspansi bisnis.
Chief Economist Pefindo, Suhindarto, mengungkapkan bahwa sektor pembiayaan konsumtif–otomotif atau multifinance menjadi kontributor terbesar dalam pipeline tersebut.
“Sektor multifinance mendominasi pipeline dengan enam perusahaan yang menyiapkan emisi senilai sekitar Rp11 triliun,” ujarnya dalam konferensi pers Pefindo, Rabu (15/4/2026).
Selain multifinance, sektor perbankan juga menunjukkan aktivitas signifikan dengan rencana penerbitan mencapai Rp9,18 triliun. Sementara itu, entitas terkait pemerintah di sektor layanan publik mencatatkan pipeline sebesar Rp7,05 triliun.
Dari sisi instrumen, Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) obligasi masih menjadi pilihan utama emiten dengan nilai mencapai Rp32,98 triliun. Skema ini dinilai memberikan fleksibilitas bagi perusahaan dalam melakukan penerbitan secara bertahap sesuai kebutuhan pendanaan.
“PUB obligasi tetap menjadi primadona, diikuti obligasi non-PUB, PUB sukuk, sukuk, dan instrumen lainnya seperti MTN, surat berharga perpetual, serta sekuritisasi,” jelas Suhindarto.
Dari sisi kepemilikan, perusahaan non-BUMN terlihat lebih agresif dalam memanfaatkan pasar surat utang. Tercatat sebanyak 33 perusahaan swasta menyiapkan rencana emisi dengan total nilai Rp48,81 triliun.
Sementara itu, kelompok BUMN dan entitas terkait—termasuk anak usaha BUMN dan BUMD—terdiri dari 12 perusahaan dengan total pipeline sebesar Rp17,47 triliun.
Pefindo menilai prospek pasar surat utang korporasi sepanjang 2026 masih akan tetap solid. Lembaga pemeringkat ini memproyeksikan total emisi berada pada kisaran Rp154 triliun hingga Rp196,86 triliun, dengan titik tengah Rp175,77 triliun.
Salah satu faktor pendorong utama adalah besarnya nilai surat utang jatuh tempo pada periode Mei hingga Desember 2026 yang mencapai Rp124,12 triliun, sehingga mendorong kebutuhan refinancing oleh korporasi.
Selain itu, kondisi makroekonomi domestik yang relatif terjaga juga menjadi penopang optimisme pasar.
“Dengan dukungan faktor makro dan kebutuhan pendanaan korporasi yang tinggi, pasar surat utang diperkirakan tetap menjadi opsi pendanaan yang kompetitif di tengah dinamika suku bunga dan volatilitas pasar keuangan,” pungkas Suhindarto.

