Jakarta (tutur.co.id) — Konflik di Timur Tengah memasuki fase yang semakin berbahaya setelah eskalasi serangan meluas hingga menyasar fasilitas energi strategis. Serangan terhadap ladang minyak dan gas memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan sekaligus pasokan energi global.
Laporan The Washington Post menyebut Pentagon tengah mengajukan tambahan anggaran lebih dari US$200 miliar kepada Kongres Amerika Serikat untuk mendanai operasi militer menghadapi Iran. Langkah ini menandakan potensi konflik berkepanjangan dengan skala yang semakin besar.
Ketegangan memuncak ketika QatarEnergy melaporkan kerusakan besar pada infrastrukturnya akibat serangan rudal. Pemerintah Qatar pun merespons dengan mengusir diplomat Iran dalam waktu 24 jam, mempertegas eskalasi konflik di ranah diplomatik.
Di medan lain, serangan udara Israel di Lebanon Timur dilaporkan menewaskan warga sipil, sementara di wilayah Israel, satu korban jiwa jatuh akibat serpihan rudal Iran. Situasi ini menunjukkan konflik tidak lagi terbatas pada target militer, tetapi turut berdampak pada masyarakat sipil.
Ancaman juga menjalar ke Arab Saudi, di mana sistem pertahanan berhasil mencegat rudal yang mengarah ke Riyadh. Namun, puing rudal yang jatuh di dekat kilang minyak mempertegas risiko gangguan terhadap infrastruktur energi kawasan.
Dengan fokus serangan yang kini mengarah pada sektor energi—termasuk jalur vital seperti Selat Hormuz—konflik ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak global dan mengganggu rantai pasok internasional. Hingga kini, situasi keamanan tetap rapuh seiring belum adanya tanda-tanda deeskalasi diplomatik.

