Kremlin (Tutur.co.id) – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus menjadi sorotan internasional, termasuk dari Rusia. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa pembunuhan para pemimpin Iran berpotensi menimbulkan konsekuensi serius yang tidak bisa diabaikan.
Dalam pernyataannya kepada jurnalis Kremlin Pavel Zarubin pada Minggu (22/3/2026), Peskov menyebut situasi tersebut sebagai kondisi yang “tidak normal” dan akan membawa dampak mendalam dalam jangka panjang.
“Bagaimanapun, ini situasi abnormal yang telah dan akan terus memiliki konsekuensi mendalam. Ini tidak bisa dibiarkan tanpa konsekuensi,” ujar Dmitry Peskov.
Peskov juga menilai bahwa tindakan semacam itu justru dapat memperkuat solidaritas internal di Iran. Menurutnya, tekanan eksternal cenderung mendorong rakyat Iran untuk semakin bersatu di sekitar kepemimpinan mereka.
Eskalasi ini bermula dari serangan udara gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari, yang menargetkan Teheran serta sejumlah kota lain di Iran. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil.
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangkaian serangan balasan menggunakan rudal dan drone yang menyasar wilayah Israel serta sejumlah pangkalan dan aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan Kremlin ini mencerminkan kekhawatiran bahwa konflik yang terus meningkat dapat memicu dampak yang lebih luas, baik terhadap stabilitas regional maupun dinamika politik global.

