Jakarta (tutur.co.id) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak melemah pada perdagangan Rabu (21/1/2026), seiring tekanan dari pasar global, khususnya pelemahan signifikan indeks saham di bursa Wall Street. Meski demikian, kenaikan harga sejumlah komoditas dinilai berpotensi menjadi penahan laju penurunan indeks.
CGS International Sekuritas Indonesia menyampaikan bahwa sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan pasar saham domestik. Tekanan dari Wall Street diproyeksikan membatasi ruang penguatan IHSG dalam jangka pendek.
“IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah, dengan level support di kisaran 9.080–9.025 dan level resistansi pada area 9.190–9.245,” tulis CGS International Sekuritas Indonesia dalam ulasannya, Rabu (21/1/2026).
Pada perdagangan sebelumnya, indeks saham utama di Amerika Serikat ditutup melemah tajam. Pelemahan tersebut dipicu oleh rencana pemerintah Amerika Serikat untuk mengenakan tarif impor sebesar 10% mulai 1 Februari dan meningkat menjadi 25% pada awal Juni terhadap delapan negara anggota NATO. Kebijakan itu muncul di tengah ketegangan politik terkait penolakan sejumlah negara atas rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengambil alih Greenland dari Denmark.
Sentimen tersebut turut memicu lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat serta pelemahan nilai tukar dolar AS. Kondisi ini mencerminkan adanya arus dana keluar dari aset keuangan Amerika, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap stabilitas fiskal Negeri Paman Sam.
Tekanan terhadap pasar obligasi AS semakin terlihat setelah pengelola dana pensiun asal Denmark, Akademiker Pension, menyatakan rencana untuk menjual kepemilikan obligasi pemerintah Amerika Serikat senilai sekitar US$100 juta pada akhir bulan ini. Lembaga tersebut mengungkapkan bahwa kekhawatiran terhadap defisit anggaran pemerintah Amerika menjadi alasan utama keputusan tersebut.
Di tengah sentimen global yang kurang kondusif, pasar saham Indonesia masih mendapatkan dukungan dari pergerakan harga komoditas. Kenaikan harga minyak mentah, gas alam, batu bara, crude palm oil (CPO), emas, dan timah berpotensi memberikan sentimen positif, khususnya bagi saham-saham berbasis sumber daya alam.
CGS International Sekuritas Indonesia menilai saham-saham komoditas masih layak dicermati untuk perdagangan jangka pendek. Adapun saham yang direkomendasikan untuk trading pada Rabu (21/1/2026) antara lain PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO), PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA), PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), serta PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA).
Bagi investor, kondisi ini menunjukkan pentingnya sikap selektif dalam mencermati pergerakan pasar. Kombinasi tekanan global dan peluang dari sektor komoditas membuat strategi jangka pendek perlu disesuaikan dengan profil risiko, sembari tetap memperhatikan perkembangan ekonomi global dan kebijakan perdagangan internasional.

