Jakarta (tutur.co.id) — MNC Sekuritas menilai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam fase downtrend di tengah tekanan geopolitik global. Pada perdagangan Rabu (4/3/2026) pukul 10.27 WIB, IHSG tercatat melemah 4,43% ke level 7.588,38 dan sempat terkoreksi lebih dari 4% pada sesi I.
Kepala Analis Ritel MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, koreksi agresif tersebut sejalan dengan pelemahan bursa global serta sentimen negatif dari Timur Tengah.
“Dari sentimen, sebenarnya masih seputar geopolitik di Timur Tengah, di mana diperkirakan mulai meluas dan juga adanya penutupan dari Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran investor akan suplai minyak mentah ke depannya,” jelas Herditya kepada tutur.co.id, Rabu siang.
Ia menambahkan, secara teknikal IHSG berpotensi menguji level support krusial di 7.481. “Waspadai apabila level tersebut tertembus maka IHSG akan menguji 7.140–7.265,” ujarnya.
Selain faktor geopolitik, pasar juga dibayangi revisi outlook Indonesia oleh Fitch Ratings dari stabil menjadi negatif yang berpotensi memicu arus keluar dana (outflow).
Sebelumnya, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa (AB) Bursa Efek Indonesia (BEI) Irvan Susandy menyebut tekanan pasar dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah setelah Iran menutup pelayaran di Selat Hormuz.
“Hal ini merupakan dampak dari eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas, dan Iran menutup Selat Hormuz yang menyebabkan kekhawatiran munculnya krisis energi. Hal ini sudah tercermin di harga minyak dunia yang meningkat,” ujar Irvan.
Tekanan juga terjadi di sejumlah bursa Asia seperti KOSPI, SET Index, Nikkei 225, TAIEX, dan S&P/ASX 200. Bahkan, indeks saham Korea Selatan sempat mengalami trading halt setelah anjlok lebih dari 8%.
Di tengah volatilitas yang meningkat, otoritas bursa memastikan mekanisme perdagangan tetap berjalan normal. Pelaku pasar kini mencermati perkembangan geopolitik dan harga energi sebagai penentu arah pergerakan jangka pendek.

