Jakarta (tutur.co.id) – Ada momen menarik saat Komisi XI DPR RI menggelar rapat kerja dengan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Senin 17 Mei 2026. Anggota komisi dari fraksi PAN, Primus Yustisio, membawa-bawa hadist untuk mendesak Gubernur BI mundur.
“Terakhir, saya ingin mengutip hadist Pak. Dan karena Anda ini saya melihat orang yang soleh, hadist ini sangat familiar, yang artinya dalam Indonesia, apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya,” kata Primus.
Sebelum membawa-bawa hadist, Primus memang lebih dulu ‘menguliti’ Perry Warjiyo dalam rapat kerja tersebut. Bahkan saat yang anggota komisi yang lain masih tampak basa-basi dengan memberikan apresiasi terhadap kinerja Gubernur BI, Primus enggan memberikannya.
“jadi saya pribadi skip juga apresiasinya, saya tunda dulu. Karena kalau kita melihat apa yang terjadi sekarang yang berhubungan dengan tugas dan fungsi Bank Indonesia itu anomali. Pertumbuhan ekonomi kita 5,61% tapi nilai tukar rupiah kita jeblok bahkan sekarang ada di level rekor terendahnya terhadap dollar,” kata Primus
Primus menambahkan, Indonesia juga tampak tertinggal saat dunia kini mulai berhasil rebound dalam menyikapi situasi global khususnya sejak pecah perang Iran. Bahkan, masih menurut Primus, nilai tukar rupiah juga mulai melemah terhadap mata uang asing lainnya.
” Kenapa rupiah kita ini lemah? Kalau dibandingkan dengan dolar, sekarang salah perbandingannya dengan dolar. Tapi faktanya dan ironisnya Pak, ini terhadap semua mata uang. (2:36) Kita melemah terhadap Singapura, terhadap Australia, terhadap Ringgit, terhadap Rial, (2:45) apalagi Hongkong, dolar, euro” tegas Primus.

