Teheran (Tutur.co.id) – Pukulan telak harus diterima Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Hanya dalam Waktu 24 jam, sesumbar Trump menguasai wilayah udara Iran runtuh total. Dua pesawat tumbang plus dua helikopter AS babak belur.
Dominasi AS di langit Iran runtuh seketika saat jet tempur F-15E Strike Eagle ditembak jatuh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Beberapa jam kemudian, dua helicopter Black Hawk yang diterjunkan untuk proses pencarian awak pesawat F-15 itu justru pulang babak belur dengan kerusakan parah akibat dihajar Iran.
Dan semua mimpi buruk itu dilengkapi dengan jatuhnya pesawat militer A-10 Warthog yang jatuh di atas Kuwait. Pertanyaannya, bagaimana mungkin Iran punya kemampuan melakukan itu dan apa senjata rahasia Iran?
Meskipun Iran belum mengungkapkan apa yang menembak jatuh jet-jet AS, para analis percaya bahwa itu mungkin sistem pertahanan udara inframerah Majid atau rudal jarak pendek yang ditembakkan dari bahu, yang tentu sulit dideteksi.
Dua pesawat tempur AS yang ditembak jatuh oleh Iran kemungkinan terlalu pede beroperasi di ketinggian yang lebih rendah dari posisi aman. Hal itu yang membuatnya mudah menjadi sasaran senjata-senjata Jarak menengah Iran.
Faktanya, sistem Majid, platform rudal permukaan ke udara jarak pendek inilah yang diyakini juga berada di balik serangan pada 19 Maret terhadap F-35 AS, pesawat tempur siluman tercanggih Amerika.
Sistem pertahanan udara ‘lapis terbawah’ Iran
Sistem Majid, yang mulai digunakan Iran di tahun 2021 dikembangkan Kementerian Pertahanan Iran dan memang dirancang untuk pertahanan terhadap pesawat yang terbang rendah. Sistem ini tidak bergantung pada radar dan lebih memilih menggunakan deteksi inframerah pasif yang dikombinasikan dengan sumbu jarak dekat.
Karena tidak memancarkan sinyal radar, pesawat target akan jauh lebih sulit mendeteksinya sebelum rudal ditembakkan. Jangkauannya hingga 8 km dan ketinggian hingga 6 km. Dengan demikian, sangat mungkin jet AS beroperasi dalam jangkauan ini.
Kemampuan deteksinya adalah kuncinya. Sensor inframerah memiliki jangkauan hingga 15 km. Sistem ini terintegrasi dengan sistem phased-array eksternal Kashef-99, yang memperluas kemampuan pelacakan hingga 30 km. Ini juga memungkinkan pemantauan beberapa target secara bersamaan. Sistem Majid dapat membawa hingga delapan rudal siap tembak.
Karena rudal-rudal tersebut menggunakan panduan inframerah pasif daripada radar, maka sulit untuk dideteksi oleh penerima peringatan pesawat. Ini menjelaskan bagaimana pesawat yang sangat canggih seperti F-35 kemungkinan besar menjadi sasaran. Selain itu, jumlah panas yang sangat besar yang dihasilkan oleh F-35 adalah titik lemahnya.
Secara konsep, Majid adalah ‘tameng lapisan bawah’ dalam sistem pertahanan berlapis Iran. Sistem pertahanan Majid ini juga efektif menghancurkan beberapa UAV bernilai tinggi AS dan Israel, terutama drone MQ-9 dan Heron, sejak awal perang pada 28 Februari.
Cara Kerja Sistem Majid
Dimulai dengan deteksi target. Bisa menggunakan radar eksternal atau sensor optic. Lalu masuk tahap penguncian atau Lock-on, menggunakan infrared seeker (IR) untuk ‘melihat’ panas mesin dari target. Artinya tidak bergantung penuh pada radar aktif.
Tahap selanjutnya adalah peluncuran rudal. Rudal diluncurkan dari kendaraan mobile (biasanya truk taktis) sehingga dapat dengan cepat berpindah-pindah posisi tanpa balik terkunci lawan.
Lalu rudal yang dilepaskan akan mengikuti jejak panas target tanpa harus terus dikendalikan. Terakhir adalah meledak dekat target atau langsung menghantam target. Sesederhana itu tapi cukup efektif bukan…

