Jakarta (Tutur.co.id) – Apa itu Operasi Epic Fury? Operasi “Epic Fury” adalah nama kode untuk kampanye militer besar-besaran yang diluncurkan Amerika Serikat bersama sekutunya, termasuk Israel, terhadap Republik Islam Iran pada tanggal 28 Februari 2026.
Operasi Epic Fury diputuskan dan diarahkan langsung oleh Presiden AS Donald Trump, dengan pelaksanaan teknis dan taktis di bawah pimpinan militer tertinggi AS seperti Jenderal Dan Caine dan koordinasi oleh CENTCOM, serta didukung secara strategis oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Operasi ini dimulai dengan serangan udara masif yang menargetkan fasilitas militer, infrastruktur, dan komando Iran. Termasuk menargetkan para pejabat tinggi Iran termasuk sang Pemimpin Tertinggi Republik Islasm Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Menurut pernyataan dari Pentagon dan Komando Pusat AS (CENTCOM), operasi ini bertujuan untuk menghancurkan kemampuan militer ofensif Iran, termasuk rudal balistik, pertahanan udara dan pusat komando. Namun belakangan, operasi ini ternyata punya misi terselebung untuk menggulingkan rezim Ayatollah Ali Khamenei.
“Pusat Komando Militer AS (CENTCOM) memulai Operasi Epic Fury, 28 Februari, atas arahan Presiden Amerika Serikat,” tulis pernyataan resmi Pusat Komando Mileter AS (CENTCOM) beberapa saat setelah serangan.
Operasi Epic Fury ini diklaim telah menewaskan lebih dari 1.000 korban jiwa termasuk para petinggi Iran dan Khamenei. Bahkan banyak korban jiwa rakyat sipil termasuk anak-anak dalam operasi ugal-ugalan Israel dan Amerika Serikat ini.
Masifnya gelombang serangan ini memang sangat masuk akal mengingat sumber daya yang dikerahkan untuk operasi ini. CENTCOM sebagai komando operasional utama mengerahkan aset udara, laut, darat, dan dukungan logistic.
Mulai dari penggunaan pesawat tempur F-16, F-18, F-22 hingga pesawat pengebom, B-2 Stealth Bombers. Juga penggunaan drone LUCAS dan MQ 9 Reaper sampai dengan sistem pertahanan Patriot semua dilibatkan.
Dan menurut Presiden Trump, Operasi Epic Fury ini akan terus berlangsung dalam beberapa minggu ke depan. Bahkan Trump mengaku belum mengeluarkan serangan terbesarnya ke Iran.
Iran sendiri lewat Korps Garda Revolusi Iran merespon Operasi Epic Fury ini dengan operasi tandingan dengan nama Operasi Janji Sejati 4. Iran menyasar seluruh aset militer Amerika Serikat yang berada di Kawasan Teluk.

