Washington (tutur.co.id) – John Bolton, mantan penasihat Donald Trump, mengeluarkan pernyataan yang terbilang sangat mengejutkan. Menurut Bolton, posisi Iran saat ini berada di atas angin dengan langkah Trump.
John Bolton yang menjadi penasihat Trump di periode pertama presiden AS mengatakan langkah mantan majikannya itu dengan rencana ngotot untuk mengakhiri perang dengan Iran justru jadi bumerang.
Minggu lalu, Trump mengirim Wakil Presiden JD Vance ke Pakistan untuk menegosiasikan pengakhiran perang, tetapi Vance kembali ke AS dengan tangan kosong. Dan menurut Bolton, rencana Trump menggelar negosiasi jilid II justru semakin membuat pede Iran.
“Anda seharusnya tidak mengirim Wakil Presiden. Dia satu tingkat di bawah Presiden. Kita tidak tahu apakah orang-orang yang dikirim Iran memiliki wewenang untuk melibatkan pemerintah mereka sejak awal. Jika kita akan mengirim pejabat tingkat tinggi, seharusnya Menteri Luar Negeri, bukan Wakil Presiden, dan bukan sukarelawan sipil, seperti menantu Trump, Jared Kushner, dan utusan khusus Steve Witkoff,” kata Bolton dilansir Rawstory, Senin 20 April 2026.
Ya, keputusan Trump dengan mengirimkan negosiator papan atas juga dianggap Bolton sebagai titik lemah diplomasi Amerika Serikat. Pasalnya, Iran pada negosiasi pertama di Islamabad beberapa waktu lalu juga hanya mengirim petinggi-petinggi medioker.
“Saya pikir mereka (Iran) mencium bau kepanikan di Gedung Putih. Saya pikir mereka dapat melihat Trump ingin keluar dari ini. Dia selalu menyiarkannya (negosiasi) hampir setiap hari. Dan itu memberi Iran pengaruh yang sangat besar,” kata Bolton.
Kabarnya, delegasi AS yang kembali dipimpin sang wapres JD Vance telah berangkat ke Islamabad. Namun Teheran masih belum jelas akan mengirim siapa saja dalam pertemuan jilid II ini.

