Surabaya (tutur.co.id) – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (Unair). Sebuah tim mahasiswa berhasil meraih Gold Medal dan Special Award dalam ajang International Invention and Innovation Competition yang merupakan bagian dari Thailand Inventors Day 2026.
Kompetisi bergengsi tersebut diselenggarakan oleh National Research Council of Thailand (NRCT) melalui Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx) yang berlangsung pada 5–9 Januari 2026 di Bangkok International Trade & Exhibition Centre (BITEC), Thailand. Ajang ini diikuti oleh inovator dari berbagai negara.
Inovasi HANDY, Solusi Deteksi Dini Carpal Tunnel Syndrome
Tim yang menamakan diri Tim Handy Unair terdiri dari tujuh mahasiswa FST, yakni Adisti Irtifa Amalia, Tasya Amalia Dwiyanti, Nadya Chaerani, Mochammad Ivan Abdillah Putra Ginka, Rizwar Fazl Ghaisan, Desak Made Dinar Indraswari, dan Anindia Dwi Astutik.
Mereka berkompetisi pada kelas G, yang mencakup bidang robotik, elektronika, otomasi, Internet of Things (IoT), serta teknologi informasi dan komunikasi. Melalui inovasi bertajuk HANDY (Hand Assistance for Carpal Tunnel Syndrome Detection and Therapy), tim ini berhasil menarik perhatian dewan juri internasional.
HANDY merupakan alat bantu tangan berbasis teknologi kesehatan yang dirancang untuk mendeteksi gejala awal Carpal Tunnel Syndrome (CTS) sekaligus mendukung proses terapi dan rehabilitasi. Inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap meningkatnya kasus gangguan muskuloskeletal, khususnya pada kelompok mahasiswa, pekerja kantoran, dan pengguna perangkat digital intensif.
Kolaborasi Tim Jadi Kunci Keberhasilan
Dalam proses pengembangan inovasi hingga tahap kompetisi, tim menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pembagian peran hingga penyampaian konsep ilmiah yang mudah dipahami. Latar belakang anggota yang beragam justru menjadi kekuatan tersendiri ketika dikelola melalui komunikasi yang intensif dan latihan presentasi yang matang.
Pendekatan kolaboratif tersebut memungkinkan tim menyederhanakan konsep teknologi tanpa menghilangkan nilai ilmiah, sehingga inovasi dapat diterima dengan baik oleh dewan juri internasional.
Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Keikutsertaan Tim Handy dalam IPITEx Thailand 2026 juga didorong oleh semangat untuk keluar dari zona nyaman dan memanfaatkan masa perkuliahan sebagai ruang belajar seluas-luasnya. Pengalaman internasional ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana membangun jejaring dan kepercayaan diri.
Melalui capaian ini, Tim Handy Unair berharap mahasiswa, khususnya di lingkungan Universitas Airlangga, tidak ragu untuk mencoba hal baru dan mengembangkan ide-ide sederhana yang memiliki dampak nyata. Prestasi di kancah internasional dinilai sebagai hasil dari proses panjang pembelajaran, kolaborasi, dan keberanian mengambil peluang. (sas)

