Jakarta (tutur.co.id) – Kritikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal lewat lima saran soal perjalanan luar negeri ke Presiden Prabowo Subianto mendapat tanggapan dari Seskab Teddy Indra Wijaya.
Sebelumnya, Dino Patti Djalal telah mengunggah video berisi lima aran agar Presiden Prabowo Subianto mengurangi perjalanan ke luar negeri. Dalam video itu, Dino Patti Djalal mengaku memberikan saran kepada Prabowo sebagai seorang sahabat lama.
“Sebagai sahabat lama Bapak, saya mewakili komunitas hubungan internasional dan banyak rakyat Indonesia, mengimbau Presiden Prabowo untuk secara signifikan mengurangi perjalanan ke luar negeri dan tidak menganggap remeh jeritan publik mengenai hal ini,” ujar Dino.
Menurut Dino Patti Djalal, Presiden Prabowo menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri sejak menjabat. Selain itu, Dino menyebut kunjungan kepala negara ke luar negeri memakan biaya yang besar mulai dari biaya rombongan, biaya pesawat, biaya hotel, biaya logistik, biaya konsumsi, biaya protokoler, hingga pengamanan.
“Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri,” katanya.
Satu perjalanan ke luar negeri, masih menurut Dino Patti Djalal, bisa menelan biaya puluhan hingga ratusan miliar rupiah. Berangkat dari itulah, Dino menyarankan lima hal kepada Prabowo.
Pertama, Dino menyarankan Prabowo lebih mengandalkan video call, Zoom call, atau telepon untuk berkomunikasi dengan pemimpin dunia. Selain itu, Dino juga menegaskan biasanya kunjungan bilateral hanya berlangsung selama satu jam atau paling banter dua jam.
Perihal ini, Dino mencontohkan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum, yang sudah 17 kali menelepon Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Kata Dino, Claudia belum sekali pun melakukan pertemuan bilateral, padahal Amerika adalah mitra perdagangan terbesar bagi Meksiko.
Kedua, Dino menyarankan Prabowo memanfaatkan kunjungan ke suatu forum internasional bertemu kepala negara lain yang juga hadir. Ia menyebut Presiden Finlandia Alexander Stubb pernah meminta waktu bertemu dengan Prabowo saat sidang PBB di New York, tapi tidak direspons.
Ketiga, Dino menyarankan kunjungan internasional Prabowo dapat dilakukan secara profesional dan direncanakan dengan baik. Dino mengamati ada sejumlah kunjungan yang dilakukan secara spontan, tanpa perencanaan dan tujuan yang jelas, sehingga secara garis besar perlu dipetakan setahun sebelumnya.
Keempat, Dino menyarankan untuk satu tahun ke depan Prabowo lebih banyak menerima tamu negara di Tanah Air ketimbang melakukan perjalanan ke luar negeri. Dino mencontohkan Presiden Cina Xi Jinping, yang lebih banyak menerima tamu negara di Beijing ketimbang bepergian ke luar negeri.
Kelima, Dino menyarankan ke depan sebagian besar misi diplomatik yang bersifat taktis dapat ditangani Menlu Sugiono. Hal ini menurut Dino akan menghemat biaya karena perjalanan Menlu hanya didampingi oleh tiga orang staf, akan jauh lebih hemat dari biaya perjalanan presiden.
Seskab Tanggapi Saran Dino Patti Djalal
Seskab Teddy Indra Wijaya menanggapi kritikan tersebut. Soal biaya ke luar negeri, kata Teddy, kelebihan biaya kunjungan luar negeri Prabowo ditanggung pribadi. Namun Teddy tetap menyampaikan terima kasih atas masukan yang telah diberikan.
“Karena saya di-mention oleh Pak Dubes Dino, saya mau meluruskan beberapa hal. Sebelumnya, terima kasih atas masukan yang telah diberikan, sangat cermat dan terstruktur,” ujar Teddy di akun media sosial Instagram milik Sekretariat Presiden.
Namun dalam ucapan terima kasihnya itu, Seskab Teddy tampak sedikit menyisipkan sindiran untuk Dino Patti Djalal
“Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi wakil menteri luar negeri walau hanya diberi kesempatan sekitar 3 bulan,” kata Teddy.
Selain itu, Teddy juga menegaskan jumlah orang dalam rombongan kunjungan luar negeri Prabowo sudah berkurang besar-besaran, hampir 50 persen, dari periode pemerintahan sebelumnya.
“Nah, kalau dulu itu itu sekali keluar negeri bisa lebih dari dari 120 orang, zaman Pak Dino seperti itu. Nah, zaman Pak Prabowo jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal,” tegas Teddy.
Teddy juga menegaskan Prabowo menjadi presiden ketika kondisi dunia sedang dinamis hari per hari, dan dipenuhi konflik global. Oleh karena itu, sambungnya, Prabowo perlu membangun dan menjalin hubungan dengan para pemimpin dunia.

