Jakarta (tutur.co.id) – Guru Besar Kriminologi Universitas Indonesia (UI) Prof. Adrianus Meliala menilai pelibatan TNI dalam penanganan kejahatan jalanan seperti begal tidak diperlukan. Menurutnya, Polri sudah memiliki kapasitas dan data yang dikantongi cukup untuk memburu pelaku kejahatan.
“Kalau bicara ideal ya sebaiknya tidak usah pakai tentara. Itu kalau kita pakai pendekatan ideal. Dan yang kedua juga sebetulnya dalam hal ini kepolisian sudah punya kapasitas yang cukup ya untuk itu, untuk menggulung para pelaku kejahatan curanmor ya khususnya mereka-mereka yang berada di kelompok-kelompok yang sudah spesialis,” ujar Prof Adrianus dalam program Tutur PoV, dikutip Minggu 31 Mei 2026.
Ia menjelaskan, data jaringan pelaku curanmor spesialis sudah berada di tangan polisi. Hal itu terbukti dengan penangkapan ratusan pelaku dalam waktu singkat sejak pembentukan satgas.
“Terbukti dalam waktu seminggu atau kurang dari seminggu saja sejak satgas itu terbentuk, lalu 200 orang sudah tergulung kan gitu. Jadi data sudah mereka miliki, polisi sudah cukup punya kemampuan untuk itu,” tegasnya.
Adrianus meragukan efektivitas jika TNI dilibatkan dalam operasi penangkapan. Menurutnya, TNI tidak memiliki data intelijen tentang jaringan kejahatan jalanan seperti yang dimiliki Polri.
“Jadi kalau misalnya pun tentara dilibatkan menurut saya lebih kepada kegiatan ramai-ramai saja, misalnya operasi di jalan gitu. Tapi apakah lalu kemudian operasi di jalan itu lalu akan menangkap para pelaku? Ya enggak mungkin dong. Memangnya para pelaku begal juga bego apa gitu ya. Jadi ketika ada operasi maka tentu mereka akan mencari jalan yang lain,” jelasnya.
Ia menambahkan, penangkapan efektif dilakukan secara senyap berdasarkan data intelijen, bukan pencegatan di jalan raya. Data tersebut tidak dimiliki oleh TNI.
“Jadi menurut saya ya diikutsertakan saja teman-teman yang lain ya, tapi tentu tidak akan ada efek banyak dari segi penangkapannya,” pungkas Guru Besar UI.

