Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Tuai Kecaman! Pernyataan Komnas Perempuan Kasus Taufik Hidayat
  • Konferensi Republik Sepakati 20 Formatur, Target 2 Pekan Kepengurusan Terbentuk
  • Kisah Penuh Kepahitan Iran di Piala Dunia 2026
  • Tutup 200 BUMN, Prabowo: Perusahaan Tidak Untung, Hanya Bayar Overhead
  • KPK Kumpulkan Rp39,8 M dari Hasil Lelang Barang Rampasan Koruptor
  • Investasi Pertamina NRE di CREC Filipina Berbuah Dividen, Nilai Investasi Naik Hampir 50 Persen
  • Pelantikan Perdana, 88 Lulusan Program Profesi Insinyur UII Resmi Disumpah
  • Prabowo Ingatkan Dampak Teknologi AI dan Nuklir di Hadapan Para Guru Besar
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Sepakbola»Kisah Penuh Kepahitan Iran di Piala Dunia 2026

Kisah Penuh Kepahitan Iran di Piala Dunia 2026

Sepakbola Deba Salamah28 Juni 2026 / 21:00 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Para pemain Iran merayakan kemenangan pertandingan lawan Uzbekistan di Kualifikasi Piala Dunia 2026 Grup A zona Asia pada 25 Maret 2025 di Teheran. ANTARA/Fatemeh Bahrami/Anadolu/pri.
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

New York (Tutur.co.id) – Piala Dunia 2026 akan dikenang sebagai salah satu turnamen paling menyakitkan dalam sejarah Timnas Iran. Team Melli bukan hanya gagal melaju ke babak 32 besar, tetapi juga harus menghadapi rangkaian peristiwa yang membuat perjalanan mereka dipenuhi drama sejak sebelum turnamen dimulai.

Mulai dari persoalan visa, perpindahan markas latihan secara mendadak, kontroversi keputusan Video Assistant Referee (VAR), hingga pupusnya harapan akibat gol pada menit ke-90+6 di pertandingan lain, semuanya menjadi bagian dari kisah pahit wakil Asia tersebut.

Harapan Iran sebenarnya masih hidup hingga detik-detik terakhir fase grup. Nasib mereka bergantung pada hasil pertandingan Grup J antara Aljazair dan Austria. Sesuai skenario yang dibutuhkan, Iran hanya memerlukan laga tersebut berakhir dengan kemenangan salah satu tim agar tetap bertahan di jalur delapan besar peringkat ketiga terbaik.

Mengantungkan Nasib dari Tim Lain

Harapan itu sempat terasa nyata ketika kapten Aljazair, Riyad Mahrez, mencetak gol pada menit ke-90+4 untuk membawa timnya unggul 3-2. Dalam situasi tersebut, Iran untuk sementara menggenggam tiket menuju babak 32 besar.

Namun, euforia itu hanya berlangsung sekejap. Dua menit kemudian, Austria menyamakan kedudukan melalui sundulan Sasa Kalajdzic pada menit ke-90+6. Skor 3-3 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan dan seketika mengubah nasib Team Melli. Hasil imbang membuat Aljazair mengoleksi empat poin sekaligus merebut slot yang sebelumnya masih berpotensi menjadi milik Iran.

Sebelum drama itu terjadi, peluang Iran memang sudah bergantung sepenuhnya pada hasil pertandingan lain. Team Melli membutuhkan setidaknya satu dari tiga skenario: Ghana mengalahkan Kroasia, Uzbekistan minimal bermain imbang melawan RD Kongo, atau laga Austria kontra Aljazair menghasilkan pemenang. Tidak satu pun dari ketiga skenario tersebut akhirnya terwujud.

Kontroversi VAR yang Mengubah Harapan

Baca Juga  Meta Akhirnya Patuhi Aturan Komdigi: Batasi Usia Pengguna Jadi 16 Tahun

Drama Iran tidak hanya terjadi pada pertandingan lain. Pada laga terakhir fase grup melawan Mesir, Team Melli sempat merasa telah memastikan tiket ke babak gugur.

Shuja Khalilzadeh mencetak gol pada masa injury time yang langsung disambut selebrasi para pemain dan jutaan pendukung Iran. Gol tersebut diyakini menjadi penentu kemenangan sekaligus membuka jalan menuju fase gugur.

Namun, setelah dilakukan peninjauan melalui VAR, wasit menganulir gol tersebut karena posisi offside. Pertandingan akhirnya berakhir imbang 1-1. Mesir lolos sebagai runner-up grup, sedangkan Iran harus kembali berharap pada hasil pertandingan lain yang pada akhirnya juga tidak berpihak kepada mereka.

Keputusan VAR tersebut memicu perdebatan. Mantan penyerang Swedia, Zlatan Ibrahimović, yang bertugas sebagai analis Piala Dunia 2026 untuk Fox Sports, menilai momen tersebut menjadi salah satu contoh paling menyakitkan dalam penggunaan teknologi di sepak bola.

“Jutaan rakyat Iran sempat merayakan apa yang mereka yakini sebagai momen bersejarah bagi negaranya. Dalam hitungan detik, semuanya dibatalkan. Anda bukan hanya menganulir sebuah gol, tetapi juga merampas impian seluruh bangsa,” ujar Ibrahimović.

Masalah Sudah Dimulai Sebelum Turnamen

Bagi kubu Iran, penderitaan mereka tidak dimulai di lapangan, melainkan jauh sebelum pertandingan pertama dimainkan.

Ketegangan diplomatik antara Teheran dan Washington berdampak pada proses keberangkatan tim. Sejumlah staf pendukung terlambat memperoleh visa untuk memasuki Amerika Serikat, sementara Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, bersama beberapa staf lainnya tidak dapat memasuki wilayah AS.

Situasi tersebut memaksa Iran memindahkan kamp latihan dari Tucson, Arizona, ke Tijuana, Meksiko, hanya beberapa saat sebelum turnamen dimulai. Perubahan mendadak itu membuat staf pelatih harus merangkap berbagai tugas agar persiapan tim tetap berjalan.

Masalah kembali muncul ketika para pemain mendapat pemberitahuan mendadak untuk meninggalkan Amerika Serikat dan kembali ke Meksiko karena persoalan administrasi perjalanan. Keputusan yang datang tepat pada hari pertandingan itu disebut mengganggu fokus seluruh anggota tim.

Baca Juga  Arsenal Resmi Juara Liga Inggris 2025/2026, Akhiri Penantian 22 Tahun

Pelatih Amir Ghalenoei secara terbuka menyampaikan kekecewaannya. Menurutnya, berbagai kendala nonteknis membuat Iran berada dalam situasi yang tidak ideal sepanjang turnamen.

“Itulah mengapa saya berpikir kami adalah tim yang paling tertindas di Piala Dunia,” kata Ghalenoei.

Kapten sekaligus penyerang utama Mehdi Taremi juga mengungkapkan hal senada. Ia menyebut seluruh situasi yang dialami tim sebagai sebuah “bencana” karena para pemain harus menghadapi tekanan di luar lapangan ketika sedang berjuang di ajang sepak bola terbesar di dunia.

Taremi mengungkapkan bahwa Presiden FIFA, Gianni Infantino, bahkan sempat mendatangi ruang ganti Iran untuk mendiskusikan persoalan yang mereka hadapi.

“Dia pasti ingin mencoba membantu kami, tetapi ini juga tentang hal-hal lain. Semua orang tahu itu. Semuanya adalah bencana bagi kami,” ujar Taremi.

Kisah Paling Emosional di Piala Dunia 2026

Pada akhirnya, Iran harus mengakhiri Piala Dunia 2026 dengan tiga poin dari tiga hasil imbang dan gagal menembus babak 32 besar. Meski demikian, perjalanan Team Melli meninggalkan cerita yang jauh melampaui hasil di atas lapangan.

Rangkaian persoalan administratif, kontroversi VAR, hingga pupusnya harapan akibat gol pada menit ke-90+6 membuat turnamen ini dikenang sebagai salah satu kisah paling emosional sepanjang Piala Dunia 2026.

Bagi kubu Iran, berbagai peristiwa tersebut menghadirkan perasaan bahwa perjuangan mereka tidak hanya ditentukan oleh kualitas permainan di lapangan, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai kendala di luar sepak bola. Terlepas dari berbagai perdebatan yang muncul, kisah Team Melli akan tetap menjadi salah satu narasi paling dramatis dalam perjalanan Piala Dunia 2026.

Amerika Serikat babak 32 besar headline iran Piala Dunia 2026 Timnas Iran VAR
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleTutup 200 BUMN, Prabowo: Perusahaan Tidak Untung, Hanya Bayar Overhead
Next Article Konferensi Republik Sepakati 20 Formatur, Target 2 Pekan Kepengurusan Terbentuk

Berita Lainnya

Afsel vs Kanada: Berperang Demi Catatan Sejarah Baru

28 Juni 2026 / 15:00 WIB

Buka Konferensi Republik, Sudirman Said: Bersatunya Masyarakat Sipil Republik Selamat

28 Juni 2026 / 13:51 WIB

Konferensi Republik Berlanjut Secara Daring Meski Batal Digelar di UI Salemba

28 Juni 2026 / 13:22 WIB

Kemenangan Argentina Atas Yordania Jadi Panggung Lahirnya Rekor Bersejarah

28 Juni 2026 / 13:00 WIB

Konferensi Republik Mendadak Batal Digelar di UI Salemba

28 Juni 2026 / 12:56 WIB

RD Kongo Tulis Sejarah Baru di Piala Dunia 2026

28 Juni 2026 / 12:25 WIB
Form Komentar Cancel Reply

IHSG Berpotensi Melemah, BRI Danareksa Sekuritas Rekomendasikan MEDC, ITMG, dan JPFA

Gusti Tetiro24 April 2026 / 07:30 WIB

Tuai Kecaman! Pernyataan Komnas Perempuan Kasus Taufik Hidayat

28 Juni 2026 / 22:25 WIB

Konferensi Republik Sepakati 20 Formatur, Target 2 Pekan Kepengurusan Terbentuk

28 Juni 2026 / 21:03 WIB

Kisah Penuh Kepahitan Iran di Piala Dunia 2026

28 Juni 2026 / 21:00 WIB

Tutup 200 BUMN, Prabowo: Perusahaan Tidak Untung, Hanya Bayar Overhead

28 Juni 2026 / 18:50 WIB

KPK Kumpulkan Rp39,8 M dari Hasil Lelang Barang Rampasan Koruptor

28 Juni 2026 / 17:45 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.