Jakarta (tutur.co.id) — Harga emas dunia diprediksi bergerak fluktuatif sepanjang pekan ini di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas berpeluang menguat dengan kisaran resistance US$5.229 hingga US$5.395 per troy ons dalam sepekan.
“Apabila harga emas dunia naik, resistance pertama berada di level US$5.229 dan resistance kedua di US$5.395 per troy ons,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (9/3/2026).
Meski demikian, ia menilai pergerakan harga emas masih berpotensi mengalami koreksi dalam jangka pendek. Menurutnya, level support pertama berada di US$5.095 per troy ons, sedangkan support kedua di US$4.959 per troy ons.
Ibrahim menjelaskan, prospek penguatan emas saat ini ditopang oleh meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik yang memanas di Timur Tengah. Kondisi tersebut membuat investor kembali memburu emas sebagai aset lindung nilai atau safe haven.
Selain faktor konflik militer, ketegangan geopolitik juga memicu kekhawatiran terhadap jalur distribusi energi global, terutama di kawasan Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama pengiriman minyak dunia.
Menurut Ibrahim, potensi penutupan jalur tersebut dapat memicu lonjakan harga minyak mentah global yang pada akhirnya meningkatkan tekanan inflasi.
“Kenaikan harga minyak mentah berisiko mendorong inflasi sehingga harga berbagai komoditas turunannya ikut naik, terutama pada sektor logistik, transportasi, dan konsumsi,” jelasnya.
Jika tekanan inflasi meningkat, kondisi tersebut berpotensi memberikan dampak positif terhadap harga emas dalam jangka pendek hingga jangka panjang, karena investor cenderung mencari aset yang dinilai lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi global.

