Amsterdam (tutur.co.id) – Stellantis akhirnya membongkar strategi besar mereka menuju 2030 lewat program bernama FaSTLAne 2030. Dalam pengumuman tersebut, perusahaan memastikan akan melakukan restrukturisasi besar-besaran terhadap seluruh merek di bawah naungannya.
Langkah ini dilakukan untuk memperkuat posisi Stellantis di tengah persaingan industri otomotif global yang makin agresif menuju era elektrifikasi dan teknologi AI.
Dalam struktur baru ini, Stellantis menetapkan empat merek utama global yang akan menerima sekitar 70% investasi perusahaan, yaitu Jeep, Ram, Peugeot, dan Fiat. Sementara merek seperti Chrysler, Dodge, Opel, Citroën, dan Alfa Romeo masuk kategori regional brands.
Meski sempat dirumorkan bakal dihentikan, Stellantis menegaskan Dodge dan Chrysler tetap dipertahankan karena dianggap masih punya pasar kuat di wilayah masing-masing.
Salah satu kejutan terbesar datang dari rencana peluncuran lebih dari 60 mobil baru hingga tahun 2030. Stellantis juga menyiapkan 50 model facelift besar dengan berbagai pilihan mesin, mulai dari mobil listrik murni, hybrid, plug-in hybrid, hingga mesin bensin mild hybrid. Totalnya akan ada 29 mobil EV baru, 15 plug-in hybrid, dan puluhan model hybrid lainnya yang siap dirilis bertahap dalam beberapa tahun ke depan.
Untuk mendukung ambisi tersebut, Stellantis menyiapkan investasi fantastis mencapai €24 miliar atau sekitar Rp450 triliun lebih. Dana itu akan digunakan untuk pengembangan platform global, teknologi kendaraan, powertrain baru, hingga sistem AI otomotif generasi terbaru. Stellantis juga memastikan teknologi yang mereka buat nantinya harus benar-benar berguna bagi pengguna, bukan sekadar fitur futuristis kosong.
Di pasar Amerika Serikat, beberapa model baru sudah mulai dibocorkan. Chrysler akan mendapatkan tiga model baru dengan harga di bawah US$40 ribu, sementara Dodge sedang menyiapkan muscle car baru bernama GLH serta model performa tinggi SRT Copperhead. Jeep juga menghadirkan Wrangler Scrambler, sedangkan Ram akan masuk ke segmen pickup compact dan midsize lewat model seperti Ram Dakota dan Ram Rampage.
Stellantis juga sedang memperkuat kerja sama dengan berbagai perusahaan besar seperti Leapmotor, Dongfeng, dan Jaguar Land Rover. Kolaborasi ini bertujuan mempercepat pengembangan teknologi kendaraan listrik dan sistem autonomous driving. Mulai 2027 nanti, Stellantis akan memperkenalkan tiga teknologi utama mereka yaitu STLA Brain, STLA SmartCockpit, dan STLA AutoDrive yang menjadi fondasi mobil masa depan mereka.
Meski industri otomotif sedang mengalami perubahan besar menuju elektrifikasi, Stellantis menegaskan mereka tetap mempertahankan “kebebasan memilih” soal mesin kendaraan. Artinya, konsumen masih akan menemukan kombinasi mesin bensin, hybrid, hingga listrik penuh dalam lineup mereka beberapa tahun ke depan. Strategi ini dinilai lebih realistis dibanding memaksa seluruh pasar langsung beralih total ke EV.
Dengan restrukturisasi besar, puluhan model baru, dan investasi teknologi dalam jumlah besar, Stellantis tampaknya sedang mempersiapkan perang besar di industri otomotif global. Kini pertanyaannya tinggal satu: apakah strategi FaSTLAne 2030 ini mampu membuat Dodge, Chrysler, Jeep, hingga Ram kembali berjaya di era mobil listrik dan AI?

