Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak dalam fase bearish consolidation menjelang penutupan perdagangan akhir tahun 2025. Sejumlah indikator teknikal menunjukkan tekanan masih dominan, di tengah likuiditas pasar yang diperkirakan menipis.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta menyatakan, secara teknikal indikator Stochastics K-D dan Relative Strength Index (RSI) masih mengindikasikan sinyal negatif, sementara volume transaksi cenderung menurun.
“Perdagangan bursa tinggal dua hari lagi menuju akhir tahun. Biasanya likuiditas akan lebih tipis, namun pelaku pasar tetap mencermati peluang window dressing dan penyesuaian portofolio akhir tahun,” tulis Aji dalam risetnya, Senin (29/12).
Aji menilai, kondisi tersebut membuka peluang bagi trader untuk memanfaatkan potensi volatilitas yang lebih tinggi pada saham berkapitalisasi kecil dan menengah. Adapun secara teknikal, IHSG saat ini memiliki level support di kisaran 8.506–8.448, dengan resistance pada rentang 8.600–8.666.
Dari sisi global, sentimen akhir tahun masih ditopang ekspektasi stabilitas data ekonomi, proyeksi kinerja laba emiten yang solid, serta optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi pada 2026. Kendati demikian, investor tetap waspada terhadap risiko global yang berpotensi memicu volatilitas pasar.
Sementara itu, dari dalam negeri, Aji menyoroti rencana pemerintah untuk memperketat penegakan hukum di sektor sumber daya alam. Pemerintah disebut tengah menyiapkan pengenaan denda sekitar US$8,5 miliar pada 2026 terhadap perusahaan sawit dan pertambangan yang beroperasi secara ilegal di kawasan hutan.
“Langkah ini bertujuan memperbaiki tata kelola sumber daya alam dan perlindungan lingkungan, yang pada akhirnya dapat memengaruhi iklim investasi dan persepsi investor terhadap praktik keberlanjutan,” ujarnya.
Dari pasar global, Wall Street tercatat melemah tipis pascalibur Natal. Tekanan dipimpin oleh saham-saham berkapitalisasi besar, seperti Palantir yang turun 2,8%, Arm Holdings melemah 1,5%, dan Walt Disney terkoreksi 0,8%. Tesla menjadi pengecualian dengan kenaikan 2,1%.
Tiga indeks utama AS ditutup melemah terbatas, dengan Nasdaq turun 0,09%, Dow Jones melemah 0,04%, dan S&P 500 terkoreksi 0,03%.
Di sisi lain, harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi pada Jumat (26/12) di level US$4.530 per troy ounce. Secara year-to-date, harga emas telah melonjak 72,7%, menjadi kenaikan tahunan tertinggi sejak 1979.
Adapun bursa Eropa bergerak relatif stagnan pada hari terakhir perdagangan jelang libur Natal. Indeks acuan Stoxx 600 pan-Eropa ditutup nyaris tidak berubah, seiring minimnya sentimen dan pelaku pasar menanti rilis data PMI Manufaktur pada pekan depan menjelang libur tahun baru. (sas)

