Teheran (Tutur.co.id) – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kian membara. Pada Senin, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan bahwa gelombang ke-11 operasi bertajuk “Janji Sejati 4” telah diluncurkan dengan daya hancur yang diklaim belum pernah terjadi sebelumnya.
Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut gelombang terbaru itu menghantam fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk serta sejumlah situs militer Israel. Mereka mengklaim sebanyak 500 lokasi menjadi target dalam kurun waktu 48 jam, angka yang langsung memicu kekhawatiran akan eskalasi lebih luas.
Serangan disebut dilakukan menggunakan kombinasi rudal balistik dan drone tempur. IRGC menyatakan pusat informasi dan logistik militer AS di wilayah Teluk menjadi sasaran utama. Di saat bersamaan, kompleks telekomunikasi tentara Israel di Beersheba juga dilaporkan kena hantam.
Tak berhenti di situ, seperti dilansir media Iran Shafaq, IRGC mengklaim lebih dari 20 lokasi di Tel Aviv, Yerusalem Barat, dan wilayah Galilea turut menjadi sasaran serangan.
Menurut pernyataan tersebut, sejak awal konfrontasi pasukan Iran telah menyerang 60 target strategis serta 500 situs militer milik AS dan Israel. Lebih dari 700 drone dan ratusan rudal diluncurkan dalam rentang operasi itu. IRGC bahkan menegaskan bahwa upaya pencegatan Israel tidak mampu menghentikan gelombang serangan yang datang bertubi-tubi.
Di sisi lain, IRGC melontarkan tuduhan keras terhadap pasukan AS dan Israel. Mereka menuduh adanya serangan terhadap situs-situs sipil di Iran, termasuk rumah sakit, sekolah, dan stasiun penyiaran negara. Tuduhan tersebut disebut sebagai bukti bahwa konflik telah melampaui target militer.
IRGC menegaskan, serangan terhadap fasilitas sipil justru akan memperkuat tekad Iran untuk memperluas operasi militernya. Pernyataan ini menandai babak baru yang semakin gelap dalam konfrontasi yang terus berkembang, dengan risiko meluasnya konflik yang kini menjadi sorotan dunia.

