Jakarta (tutur.co.id) – Kebiasaan menimbun barang atau perilaku menumpuk barang pada orang tua biasa disebut hoarding disorder. Tanpa disadari, perilaku menumpuk barang yang terjadi pada orang tua akan berdampak pada anak.
Anak yang tumbuh besar di lingkungan beserta penderita hoarding disorder atau menumpuk barang yang tidak perlu, cenderung terjebak dalam kekacauan ekstrem. Yang berdampak pada tumbuh kembang dan perilaku sosialnya terlebih bagi mereka yang masih di bawah umur.
Dikutip dari laman International Hoarding Founfation, berikut dampak pada anak atas perilaku atau kebiasaan menumpuk barang:
1. Depresi atau merasa kesal.
Ini dipicu oleh perasaan betapa orang tua mereka lebih menghargai barang dibandingkan mereka. Muncul rasa ditinggalkan atau ditolak, hingga dapat menimbulkan rasa kesal panjang hingga putus asa.
2. Malu berlebihan atau minder.
Anak akan merasa malu dengan teman-temannya karena kondisi rumah yang penuh dengan barang. Akhirnya anak cenderung menarik diri dari pergaulan.
3. Memutus hubungan dengan orang tua.
Di fase anak-anak yang sudah remaja atau dewasa, akan muncul keinginan untuk segera terpisah dari orang tua. Memilih untuk hidup mandiri.
Untuk mengantisipasi perburukan kondisi di atas, sebaiknya keluarga dapat melakukan hal-hal berikut:
1. Mintalah bantuan profesional untuk membantu memikirkan strategi mengelola stres.
2. Pintar-pintar untuk menemukan cara lain dalam menjaga hubungan baik dengan kerabat lain.
3. Tegas dalam mengungkapkan perasaan atas apa yang dihadapi bersama penderita hoarding disorder.
4. Mengakui perilaku hoarding disorder anggota keluarga lain berpengaruh pada diri Anda dan keluarga lain.
5. Temukan terapi yang tepat untuk dapat mengelola stres.
6. Lakukan validasi perasaan Anda sendiri.

