Granada (tutur.co.id) – Indonesia, melalui representasi Jakarta sebagai UNESCO City of Literature, kembali mengukuhkan kehadirannya di panggung sastra internasional dengan tampil sebagai Special Guest City dalam Granada Book Fair 2026. Acara ini akan digelar dari 3 April hingga 3 Mei 2026.
Keterlibatan ini merupakan bagian dari inisiatif MTN Rekognisi Internasional dari program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya. Momentum ini menandai langkah strategis dalam memperluas jangkauan sastra Indonesia sekaligus memperdalam dialog lintas budaya dengan dunia berbahasa Spanyol.
MTN Seni Budaya, yang dikelola oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, merupakan program prioritas nasional yang bertujuan menjaring, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan, sekaligus menghubungkan mereka dengan berbagai peluang pengembangan kapasitas di tingkat
nasional maupun internasional.
Di dalam kerangka tersebut, MTN Rekognisi Internasional berfokus pada dukungan bagi talenta unggul untuk mengakses peluang internasional, dengan mendorong partisipasi dalam berbagai platform global seperti festival, penghargaan, pameran, pasar, dan forum. Fase ini bertujuan memperluas eksposur internasional, memperkuat keterlibatan global, serta memposisikan talenta Indonesia di panggung dunia.
Berangkat dari lanskap kebahasaan dan budaya yang kaya dengan ratusan bahasa dan tradisi yang hidup, sastra Indonesia terus tumbuh melalui perjumpaan lintas ruang dan waktu. Dalam konteks ini, upaya menjangkau pembaca berbahasa Spanyol menjadi penting, mengingat bahasa ini merupakan salah satu bahasa dengan penutur terbanyak di dunia, sementara jumlah karya sastra Indonesia yang diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Spanyol masih terbatas.
“Partisipasi Indonesia sebagai Guest of Honor City di Granada Book Fair 2026 merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan Kementerian Kebudayaan melalui program MTN Seni Budaya untuk memperluas kehadiran sastra Indonesia dalam lanskap global,” kata Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra dalam keterangan tertulisnya.
Masih menurut Ahmad, upaya ini tidak hanya berfokus pada pengembangan di dalam negeri, tetapi juga membuka ruang bagi talenta Indonesia untuk terlibat secara aktif dalam jejaring dan percakapan internasional. Dalam konteks ini, sastra dipahami sebagai medium penting yang memungkinkan terbangunnya dialoglintas budaya yang inklusif, dinamis, dan berkelanjutan.
Partisipasi Indonesia tahun ini diwakili tiga penulis terkemuka yakni Eka Kurniawan, Soe Tjen Marching, dan Feby Indirani, yang karya-karyanya telah dan tengah menjangkau pembaca internasional melalui penerjemahan ke dalam bahasa Spanyol. Kehadiran mereka mencerminkan wajah sastra Indonesia yang beragam, kritis, dan terus bergerak melintasi batas geografis maupun kultural.
Sebagai bagian dari program Writers in Focus, ketiga penulis akan terlibat dalam sejumlah sesi diskusi Utama. Eka Kurniawan akan tampil dalam sesi round table pada Jumat, 24 April 2026 pukul 21.00 waktu setempat di Caja Rural Granada Foundation Pavilion, berdialog Bersama Laura Prinsloo mengenai dinamika dan posisi sastra Indonesia dalam lanskap global.
Sedangkan Feby Indirani dan Soe Tjen Marching akan hadir dalam sesi round table bertajuk Contemporary Indonesian Authors pada Sabtu, 25 April 2026 pukul 20.30 waktu setempat di Zaida Room, membahas keberagaman perspektif perempuan dalam sastra Indonesia kontemporer, termasuk isu memori, gender, dan kebebasan berekspresi.
Lebih dari sekadar partisipasi simbolik, kehadiran Indonesia di Granada membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dimulai dari peluang penerjemahan karya-karya baru hingga pertukaran ide yang memperkaya ekosistem sastra lintas negara.
Melalui partisipasi ini, sastra Indonesia tidak hanya hadir sebagai representasi identitas, tetapi juga sebagai ruang imajinasi kolektif—yang membuka kemungkinan baru tentang bagaimana cerita, gagasan, dan pengalaman dapat saling terhubung lintas batas.

