Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet
  • Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?
  • Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah
  • BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal
  • Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli
  • Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026
  • Mencari Akhir yang Manis
  • Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Lingkungan»INDEF Soroti Tantangan Besar Indonesia Kejar Target SDGs Pilar Lingkungan

INDEF Soroti Tantangan Besar Indonesia Kejar Target SDGs Pilar Lingkungan

Lingkungan Toto Pribadi06 Mei 2026 / 20:08 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Annisa Utami Kusumanegara (kanan), Peneliti FESD INDEF dan Salsabila Azkia (Foto: Tutur/INDEF)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) – Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) menyoroti tantangan besar Indonesia dalam mengejar target Sustainable Development Goals (SDGs) Pilar Lingkungan menjelang tenggat pencapaian 2030. Hal ini menjadi pembahasan utama dalam podcast bertajuk What’s on Economy, Rabu 6 Mei 2026.

Dalam podcast bersama peneliti INDEF, Salsabila Azkia dan peneliti Center of Food and Energy Sustainable Development INDEF, Annisa Utami Kusumanegara itu dijelaskan bahwa Indonesia saat ini berada di peringkat 77 dari 167 negara dalam pencapaian SDGs.

Meski secara agregat posisi Indonesia relatif lebih baik dibanding sejumlah negara lain di kawasan Asia Pasifik, masih terdapat berbagai indikator lingkungan yang stagnan, mulai dari kota berkelanjutan, kualitas udara, hingga perlindungan ekosistem darat dan spesies terancam punah.

Annisa menjelaskan bahwa SDGs merupakan kesepakatan global yang diratifikasi sekitar 193 negara sebagai kelanjutan dari Millennium Development Goals (MDGs). Berbeda dengan MDGs yang lebih berfokus pada pembangunan ekonomi, SDGs memiliki pendekatan yang lebih holistik karena mencakup isu lingkungan, sosial, tata kelola, hingga hukum. Saat ini SDGs terdiri atas 17 tujuan dan 169 target pembangunan global.

Menurutnya, salah satu tantangan terbesar Indonesia bukan hanya pada aspek teknis dan pendanaan, tetapi juga pada political will atau kemauan politik dalam mengintegrasikan SDGs ke dalam dokumen perencanaan pembangunan nasional maupun daerah. Ia menilai bahwa SDGs masih sering diperlakukan sekadar sebagai “tagging” program, bukan benar-benar dijadikan target pembangunan utama yang harus dicapai secara serius.

“Ketika political will-nya tidak ada, maka SDGs hanya menjadi label administratif. Padahal seharusnya ada prioritas yang jelas terkait indikator mana yang paling mendesak untuk diselesaikan,” ujar Annisa.

Baca Juga  Janji Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Masih Jalan di Tempat

Selain itu, pandemi COVID-19 juga disebut memberikan dampak signifikan terhadap mundurnya capaian SDGs di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Bahkan, berdasarkan proyeksi kawasan Asia Pasifik, pencapaian target SDGs diperkirakan baru dapat terealisasi jauh setelah tahun 2030.

Dalam diskusi tersebut juga dibahas tantangan implementasi SDGs di tingkat daerah. Pemerintah daerah diwajibkan menyusun Rencana Aksi Daerah (RAD) SDGs. Namun, kapasitas fiskal dan kualitas data antar daerah dinilai masih sangat timpang. Annisa mencontohkan bahwa sejumlah indikator lingkungan seperti PM2.5 belum sepenuhnya dapat diukur secara optimal di banyak daerah karena keterbatasan alat pemantauan kualitas udara.

Beberapa indikator global bahkan belum memiliki data nasional yang memadai, seperti isu child labor. Selain pemerintah, sektor usaha juga dinilai memiliki tanggung jawab penting dalam mendukung pencapaian SDGs. Menurut Annisa, konsep responsible consumption and production harus mendorong produsen untuk bertanggung jawab terhadap limbah dan dampak lingkungan dari produk yang dihasilkan.

Diskusi juga menyoroti persoalan sampah plastik dan circular economy. Annisa menilai bahwa kebijakan pengelolaan sampah di Indonesia masih terlalu berfokus pada hilir, seperti pengolahan sampah menjadi RDF (Refuse Derived Fuel), dibandingkan perubahan perilaku masyarakat untuk mengurangi sampah sejak awal. Ia menegaskan bahwa prinsip utama circular economy tetap harus dimulai dari reduce, reuse, dan recycle.

“Problem besarnya adalah bagaimana mengurangi sampah sejak awal. Itu bukan hanya tanggung jawab konsumen, tetapi juga produsen,” jelasnya.

Dalam konteks kota berkelanjutan, Jakarta dinilai telah memiliki berbagai instrumen kelembagaan dan regulasi pendukung SDGs. Namun demikian, masih terdapat tantangan mendasar seperti sanitasi, akses air bersih, kualitas udara, dan prioritas pembangunan yang dinilai lebih berorientasi pada konsep “kota global” dibanding “kota sehat”.

Baca Juga  Selama 2019–2024, Indonesia Kehilangan 554 Ribu Hektare Sawah

Pada bagian akhir diskusi, Annisa mengajak masyarakat untuk lebih aktif berpartisipasi dalam isu pembangunan berkelanjutan, termasuk melalui forum Musrenbang dan pilihan konsumsi sehari-hari yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan maupun hak pekerja.

Meski mengaku tidak terlalu optimistis target SDGs 2030 dapat tercapai sepenuhnya, Annisa menegaskan bahwa SDGs tetap menjadi framework penting yang harus terus diperjuangkan, bahkan setelah tahun 2030.

“Terlepas apakah targetnya tercapai atau tidak, tujuan pembangunan berkelanjutan tetap worth it untuk diupayakan,” tutupnya.

INDEF Lingkungan podcast Sustainable Development Goals (SDGs)
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleVideo: Kalah 5-4 di Leg Pertama, Bayern Munich Siap “Comeback” Lawan PSG
Next Article Tengok Jembatan Tertinggi di Dunia, Huajiang Grand Canyon Bridge

Berita Lainnya

Cek Sebelum Cekcok: Ketika Emak-Emak Bekasi Lawan Sindikat Kloning Suara Berbasis AI

05 Juli 2026 / 19:05 WIB

Menjaga Napas Terakhir Bumi: Kisah Farwiza Farhan dan Jiwa Magis Ekosistem Leuser

05 Juli 2026 / 15:20 WIB

GreenBus Pertamina Ajak Pelajar Belajar Kelola Lingkungan dari Kampung Hijau Cemara

04 Juli 2026 / 20:42 WIB

Komut Pertamina Tinjau Program KANG ILING, Pastikan CSR Berdampak bagi Masyarakat

03 Juli 2026 / 21:20 WIB

Astra Perkuat Desa Les Bali Lewat Pelestarian Alam, Budaya, dan Pemberdayaan Warga

03 Juli 2026 / 16:03 WIB

Sumber Daya Alam: Berkah atau Kutukan?

30 Juni 2026 / 20:03 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Sukuk PNM Tembus Panggung Dunia, Raih Penghargaan di Hong Kong

Galuh Parantri18 April 2026 / 13:10 WIB

Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet

18 Juli 2026 / 14:19 WIB

Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?

18 Juli 2026 / 13:30 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal

18 Juli 2026 / 12:45 WIB

Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli

18 Juli 2026 / 11:50 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.