Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di zona merah pada awal pekan. Pada sesi pertama perdagangan Senin (6/4/2026), IHSG turun 55 poin atau 0,79% ke level 6.971, dipicu kombinasi tekanan global dan sentimen domestik.
Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah. Pernyataan Donald Trump yang kembali melontarkan ultimatum kepada Iran memicu kekhawatiran baru terkait stabilitas pasokan energi global.
Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pasar merespons negatif ancaman Amerika Serikat yang berpotensi menargetkan infrastruktur energi Iran jika akses Selat Hormuz tidak dibuka kembali.
“Pasar merespons meningkatnya tensi geopolitik, terutama setelah AS mengancam akan menargetkan infrastruktur energi Iran,” tulis Pilarmas dalam risetnya.
Penolakan Iran atas tuntutan tersebut semakin memperbesar risiko konflik berkepanjangan. Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global.
Kenaikan harga energi dinilai berpotensi membuat Federal Reserve (The Fed) menahan suku bunga lebih lama dari ekspektasi sebelumnya.
“Lonjakan harga energi meningkatkan risiko inflasi dan memicu ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga lebih lama,” jelas Pilarmas.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap IHSG juga datang dari rilis daftar saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi (highly concentrated share/HSC). Sejumlah emiten besar seperti Barito Renewables Energy (BREN) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) masuk dalam daftar tersebut dan mengalami tekanan.
Koreksi pada saham-saham berkapitalisasi besar ini memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan indeks. Selain itu, pasar juga mencermati potensi keluarnya saham-saham tersebut dari indeks global seperti MSCI, yang dapat memicu arus keluar dana asing.
Di tengah tekanan tersebut, sejumlah saham masih mampu mencatatkan penguatan, di antaranya VOKS, ESIP, IFSH, POLA, dan FORE. Sementara saham yang mengalami pelemahan terbesar antara lain SOTS, ALKA, RLCO, DEFI, dan BREN.
Untuk strategi perdagangan, Pilarmas merekomendasikan akumulasi beli pada saham TINS dengan kisaran support di level 3.240 dan resistance di 3.790.
Dengan dinamika global yang semakin kompleks, pelaku pasar diharapkan tetap mencermati perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global, yang saat ini menjadi faktor utama penggerak arah IHSG.

