Jakarta (tutur.co.id) — Optimisme kembali menyelimuti pasar saham domestik. IHSG berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis (26/3/2026), setelah ditutup melonjak 2,75% ke level 7.302,1 pada sesi sebelumnya—sebuah rebound signifikan usai sempat dibuka di zona merah.
Sentimen global menjadi pendorong utama. Koreksi tajam harga minyak dunia, menyusul sinyal deeskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, memberikan ruang napas bagi pasar keuangan. Laporan mengenai proposal perdamaian yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz mendorong penurunan harga energi, dengan minyak WTI turun sekitar 5% ke kisaran US$ 87 per barel dan Brent melemah lebih dari 6% ke sekitar US$ 98 per barel.
Penurunan harga minyak ini secara langsung meredakan kekhawatiran inflasi dan tekanan biaya, yang selama beberapa pekan terakhir menjadi beban bagi pasar ekuitas global, termasuk Indonesia.
Secara teknikal, sinyal penguatan semakin terlihat. Analis Phintraco Sekuritas mencatat penyempitan histogram negatif MACD serta terbentuknya golden cross pada stochastic RSI, meskipun berada di area overbought. IHSG juga berhasil bertahan di atas MA5 dengan dukungan volume beli yang meningkat—indikasi kuat adanya akumulasi.
“Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan menguji level 7.350–7.400,” tulis Phintraco dalam risetnya.
Dari dalam negeri, sentimen tambahan datang dari kebijakan fiskal. Pemerintah tengah mengkaji langkah efisiensi anggaran yang berpotensi menghemat hingga Rp 80 triliun, ditambah usulan penghematan lain sebesar Rp 40 triliun dari program distribusi bantuan. Upaya ini dipandang sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas APBN di tengah volatilitas harga energi global.
Meski demikian, tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda. Nilai tukar rupiah masih melemah ke level Rp 16.911 per dolar AS, mencerminkan kehati-hatian investor terhadap risiko global yang masih membayangi.
Dalam lanskap tersebut, pelaku pasar tetap selektif. Phintraco merekomendasikan saham perbankan dan energi seperti BBCA, BBRI, BMRI, DSNG, dan PTRO. Sementara KB Valbury Sekuritas menyoroti peluang trading pada saham AADI, PTBA, TLKM, UNTR, CPIN, dan LSIP, dengan pendekatan berbasis momentum jangka pendek.
Bagi investor, fase ini mencerminkan kombinasi antara peluang teknikal dan ketidakpastian global. Selama sentimen geopolitik mereda dan harga energi terkendali, ruang penguatan IHSG masih terbuka—meski tetap dibayangi potensi volatilitas jangka pendek.

