Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan sinyal pemulihan terbatas setelah sempat tertekan dalam beberapa pekan terakhir. Dari sisi teknikal, pasar dinilai mulai menemukan pijakan, meski sentimen global dan agenda reformasi pasar modal domestik masih menjadi faktor penentu arah berikutnya.
Senior Market Chartist M. Nafan Aji Gusta menilai IHSG berhasil melakukan rebound setelah menguji fase “wave ii”. Indikator teknikal seperti Relative Strength Index (RSI) telah berada di area oversold, sementara volume transaksi mulai menunjukkan peningkatan.
“Secara teknikal, IHSG sudah berhasil rebound. Namun perhatian pasar kini tertuju pada data makroekonomi penting dari Amerika Serikat, terutama yang sebelumnya tertunda, seperti nonfarm payroll, retail sales Desember 2025, serta inflasi konsumen (CPI) Januari 2026 yang bisa mengubah ekspektasi arah suku bunga The Fed,” ujar Nafan di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati rilis data penjualan ritel Indonesia Desember 2025 yang diproyeksikan tumbuh 5,5% secara tahunan, ditopang efek musiman Natal dan Tahun Baru. Selain itu, musim publikasi laporan keuangan tahun buku 2025 emiten menjadi katalis selektif bagi pergerakan saham.
Komoditas dan Geopolitik Jadi Penopang
Ketidakpastian kebijakan moneter global turut mengerek harga komoditas. Nafan mencatat harga emas menguat lebih dari 2%, sementara perak melonjak lebih dari 7% dalam perdagangan Eropa, mencerminkan meningkatnya permintaan aset lindung nilai.
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent dan WTI masing-masing naik lebih dari 1%, dipicu meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran terkait ambisi nuklir Teheran. Kondisi ini memberi sentimen tambahan bagi saham-saham berbasis energi.
Bursa Global Masih Konstruktif
Dari luar negeri, pasar saham Amerika Serikat melanjutkan reli. Sektor teknologi kembali menjadi motor utama penguatan, dengan saham-saham seperti Oracle melonjak 9,6%, Palantir 5,2%, AMD 3,6%, dan Broadcom 3,3%.
Indeks Nasdaq memimpin penguatan dengan kenaikan 0,9%, disusul S&P 500 yang naik 0,5%. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average kembali mencetak rekor tertinggi meski hanya menguat tipis 0,04%.
Data ekspektasi inflasi AS untuk satu tahun ke depan turut memberi sentimen positif. Angkanya turun ke level 3,1% pada Januari, terendah dalam enam bulan terakhir, seiring ekspektasi perlambatan harga bahan bakar dan layanan kesehatan.
Momentum positif juga menjalar ke Eropa. Bursa-bursa di kawasan tersebut melanjutkan penguatan, ditopang musim laporan keuangan serta sentimen positif dari bursa Asia. Indeks Stoxx 600 pan-Eropa tercatat menguat 0,7% pada perdagangan Senin.
FTSE Russell Tunda Evaluasi Indonesia
Namun demikian, dinamika reformasi pasar modal Indonesia masih menjadi sorotan lembaga indeks global. Senior Investment Specialist Mirae Sekuritas, Pandu Ilham, mengungkapkan FTSE Russell memutuskan menunda evaluasi indeks Maret 2026 untuk Indonesia.
“Penundaan ini dilakukan karena masih adanya ketidakpastian terkait reformasi pasar modal, khususnya penentuan free float dan potensi gangguan pasar selama proses reformasi berlangsung,” ujar Pandu.
FTSE Russell akan terus memantau perkembangan dan memberikan pembaruan pada tinjauan kuartalan Juni 2026, dengan pengumuman dijadwalkan pada 22 Mei 2026. Selama masa penundaan, sejumlah perubahan indeks seperti penambahan atau penghapusan saham hasil evaluasi, perubahan klasifikasi ukuran, hingga penyesuaian bobot investasi tidak diberlakukan sementara.
Meski demikian, aksi korporasi tertentu seperti delisting akibat merger, akuisisi, atau kebangkrutan, serta pembagian dividen dan aksi non-penambahan modal tetap berjalan normal.
Di tengah berbagai sentimen tersebut, pasar domestik dinilai masih berada dalam fase penyesuaian. Rebound teknikal memberi ruang napas bagi IHSG, tetapi keberlanjutan penguatan akan sangat bergantung pada kejelasan arah kebijakan global dan konsistensi reformasi pasar modal di dalam negeri.

