Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melonjak 4,4% ke level 7.279,21 pada perdagangan Rabu (8/4/2026), didorong sentimen global positif setelah tercapainya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Kesepakatan tersebut diumumkan Presiden AS Donald Trump pada Selasa (7/4) malam waktu setempat, yang menyatakan penghentian serangan selama dua pekan. Iran juga menyetujui kesepakatan tersebut dengan menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz, dengan mediasi Pakistan.
Meredanya ketegangan geopolitik langsung tercermin di pasar komoditas. Harga minyak Brent terkoreksi tajam sekitar 13,7% ke kisaran US$94,3 per barel, sementara harga emas justru menguat 2,8% ke level US$4.815 per ons.
Dalam analisanya, Stockbit menyebut penguatan IHSG ditopang saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan.
“Kenaikan IHSG dipimpin oleh saham-saham big caps, terutama sektor perbankan seperti BBCA, AMMN, dan BBRI. Selain itu, rupiah juga menguat 0,55% ke Rp17.010 per dolar AS,” tulis Stockbit.
Penguatan rupiah turut memperkuat sentimen positif di pasar, seiring meredanya tekanan eksternal dalam jangka pendek.
Lebih lanjut, Stockbit menilai sentimen gencatan senjata ini cukup signifikan bagi pasar domestik, terutama karena datang bersamaan dengan tetap dipertahankannya status Indonesia sebagai secondary emerging market oleh FTSE.
“Kami menilai gencatan senjata AS–Iran dan dipertahankannya status Indonesia oleh FTSE membawa sentimen positif bagi IHSG, meski pelemahan harga minyak menekan saham-saham sektor energi,” tulisnya.
Secara keseluruhan, reli IHSG mencerminkan respons cepat pasar terhadap meredanya risiko geopolitik global, meski pelaku pasar masih mencermati keberlanjutan kesepakatan tersebut dalam beberapa waktu ke depan.

