Jakarta (tutur.co.id) — Pergerakan IHSG diprediksi melanjutkan pelemahan pada perdagangan Senin (27/4/2026), meskipun sejumlah sentimen global mulai menunjukkan perbaikan.
Mayoritas indeks di bursa Wall Street ditutup menguat pada akhir pekan lalu, bahkan Nasdaq kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Kenaikan ini didorong harapan pasar terhadap potensi lanjutan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran guna meredakan konflik di Timur Tengah.
Perkembangan tersebut diperkuat oleh laporan yang menyebut Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membuka peluang dialog lanjutan melalui mediator Pakistan. Selain itu, perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon turut meredakan sebagian kekhawatiran pasar global.
Sejalan dengan itu, harga minyak mentah dunia jenis WTI terkoreksi 1,51% ke level US$94 per barel, memberikan ruang napas bagi pasar keuangan global.
Namun, sentimen positif eksternal tersebut dinilai belum cukup kuat menopang pasar domestik. Tekanan dari dalam negeri masih membayangi, terutama akibat aksi jual investor asing yang besar serta pelemahan nilai tukar rupiah.
“IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 7.005–6.880 dan resistance 7.255–7.380,” tulis CGS International Sekuritas Indonesia dalam risetnya.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan IHSG diperkirakan tetap fluktuatif dengan kecenderungan melemah dalam jangka pendek, seiring tarik-menarik antara sentimen global yang mulai membaik dan tekanan domestik yang masih kuat.
Untuk strategi perdagangan, CGS International merekomendasikan sejumlah saham yang dapat dicermati, yakni ANTM, PSAB, ARCI, ERAA, ADMR, serta BFIN.
Investor disarankan tetap selektif dan disiplin dalam mengelola risiko, mengingat volatilitas pasar masih tinggi di tengah ketidakpastian global dan tekanan nilai tukar.

