Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak konsolidatif pada perdagangan Selasa (2/6/2026) di tengah penantian pelaku pasar terhadap sejumlah data ekonomi domestik serta perkembangan geopolitik global. BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak dalam rentang support 6.070 dan resistance 6.285.
Dalam riset hariannya, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa perhatian investor akan tertuju pada rilis data inflasi Indonesia periode Mei 2026 yang diperkirakan meningkat menjadi 2,94% secara tahunan (year-on-year/YoY). Selain itu, pasar juga akan mencermati data neraca perdagangan yang diproyeksikan mencatat surplus sebesar US$1,31 miliar, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.
Di level global, sentimen pasar turut dipengaruhi perkembangan negosiasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar keuangan dunia, termasuk harga komoditas dan aliran modal ke negara berkembang.
Pergerakan IHSG juga mendapat pengaruh dari bursa saham Amerika Serikat yang ditutup bervariasi pada perdagangan sebelumnya. Indeks Dow Jones melemah 0,09%, sementara S&P 500 menguat 0,26% dan Nasdaq naik 0,42%, mencerminkan masih adanya optimisme investor terhadap saham-saham teknologi.
Untuk strategi perdagangan jangka pendek, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan tiga saham yang dinilai memiliki peluang menarik. Saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) direkomendasikan beli dengan target harga Rp3.960 hingga Rp4.230. Selanjutnya, saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) direkomendasikan beli dengan target harga Rp2.580 hingga Rp2.710. Adapun saham PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX) direkomendasikan beli dengan target harga Rp438 hingga Rp466.
Meski demikian, kondisi pasar domestik masih dibayangi tekanan yang terjadi sepanjang pekan lalu. IHSG tercatat melemah 0,56% dan ditutup di level 6.162. Koreksi tersebut terjadi ketika mayoritas indeks saham global justru bergerak menguat dan bahkan mencetak rekor tertinggi baru.
Tekanan terbesar datang dari saham-saham berkapitalisasi besar (big caps). Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 3,39%, PT Astra International Tbk (ASII) melemah 7,41%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terkoreksi 3,28%, dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) merosot hingga 19,3%.
Pelemahan juga terjadi pada sebagian besar sektor di Bursa Efek Indonesia. Sektor industri turun 2,31%, sektor konsumer non-primer melemah 2,45%, sektor keuangan terkoreksi 1,16%, sektor properti turun 1,96%, dan sektor energi melemah 1,17%.
Kondisi tersebut membuat kinerja IHSG sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) masih berada dalam tekanan. Karena itu, investor diperkirakan akan lebih selektif dalam memilih saham di tengah tingginya ketidakpastian global dan menantikan arah kebijakan ekonomi domestik dalam beberapa bulan ke depan.

