Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan awal pekan, Senin (25/5/2026), meski pelaku pasar masih dibayangi berbagai sentimen negatif domestik dan global yang menekan pasar saham dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan data RTI pada pukul 09.05 WIB, IHSG berada di level 6.171 atau menguat 9 poin (0,16%). Sebelumnya, indeks sempat dibuka lebih tinggi pada level 6.187.
Pergerakan IHSG pagi ini berada pada rentang 6.145 hingga 6.224. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 1,66 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 3,44 miliar saham yang ditransaksikan dalam 187.549 kali perdagangan.
Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 350 saham menguat, 181 saham melemah, dan 173 saham bergerak stagnan.
Meski bergerak di zona hijau secara harian, performa IHSG masih berada dalam tekanan cukup dalam secara jangka menengah. Secara bulanan, IHSG tercatat melemah 18,24%, sedangkan dalam tiga bulan terakhir turun 22,30%.
Tekanan lebih dalam juga terlihat pada kinerja enam bulanan yang turun 24,47%. Sepanjang 2026, IHSG telah terkoreksi hingga 28,69%.
BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak terbatas pada rentang support 6.100 dan resistance 6.400 pada perdagangan hari ini.
Menurut BRI Danareksa Sekuritas, pelaku pasar masih mencermati perkembangan regulasi sentralisasi ekspor komoditas strategis yang hingga kini masih memunculkan berbagai interpretasi terkait mekanisme dan implementasinya.
Selain itu, sentimen pasar juga dipengaruhi keputusan FTSE Russell yang mengeluarkan empat saham dari indeksnya, termasuk saham DSSA. Di sisi global, pasar mendapat sentimen positif dari peluang tercapainya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong penguatan bursa saham Wall Street pada akhir pekan lalu.
Di tengah peluang rebound tersebut, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham CPIN dengan target harga Rp 4.390-4.530, saham HRTA dengan target Rp 2.370-2.620, serta saham ESSA dengan target Rp 740-770.
Pekan lalu, IHSG mencatat salah satu koreksi terdalam sepanjang tahun ini. Dalam lima hari perdagangan, indeks anjlok 561,27 poin atau 8,35% ke level 6.162,04. Bahkan, IHSG sempat menyentuh level terendah di 5.966.
Koreksi tajam tersebut menyebabkan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia menyusut Rp 1.190 triliun atau sekitar 10,07% menjadi Rp 11.825 triliun hanya dalam sepekan.
Penurunan signifikan tersebut turut mengubah daftar emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia. Posisi teratas kini ditempati saham BBCA, diikuti DCII, BBRI, BMRI, BYAN, BREN, MORA, TLKM, ASII, dan AMMN. Saham TPIA terdepak dari daftar 10 besar kapitalisasi pasar.
Secara regional, pelemahan IHSG pekan lalu juga menjadi yang terdalam di dunia. Sebagai perbandingan, indeks Hang Seng Hong Kong hanya turun 1,37%, sedangkan indeks FTSE Bursa Malaysia melemah 1,58%.
Tekanan terbesar terhadap IHSG datang dari kejatuhan hampir seluruh sektor saham. Sektor material dasar tercatat turun 16,31%, sektor energi melemah 13,68%, sektor transportasi terkoreksi 19,1%, sektor industri turun 11,70%, sektor infrastruktur melemah 10,80%, dan sektor konsumer primer turun 10,20%.
Adapun saham-saham dengan penurunan terbesar pekan lalu antara lain TPIA yang anjlok 53,49%, WBSA turun 50,20%, DSSA melemah 47,34%, CUAN tergerus 39,41%, NSSS turun 38,30%, serta BANK melemah 37,45%.
Sementara saham yang paling besar menekan IHSG pekan lalu berasal dari TPIA, DSSA, BREN, BRPT, AMMN, BRMS, dan BYAN.

