Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak dalam tren penguatan (uptrend) pada perdagangan hari ini, seiring membaiknya indikator teknikal dan dukungan sentimen positif baik dari global maupun domestik.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta menilai, secara teknikal IHSG menunjukkan struktur pergerakan yang solid. Indikator Stochastics K–D dan Relative Strength Index (RSI) memberikan sinyal positif, diiringi oleh penguatan volume transaksi. Selain itu, pergerakan rata-rata MA20 dan MA60 juga mengindikasikan tren naik yang masih terjaga.
“Secara teknikal IHSG berada dalam kondisi uptrend. Area support berada di level 8.903 dan 8.873, sementara resistance terdekat di kisaran 8.975 hingga 9.001,” ujar Nafan dalam kajian pasar, Rabu (7/1/2026).
Dengan konfigurasi tersebut, Mirae Asset merekomendasikan strategi akumulasi secara selektif. Investor disarankan untuk fokus pada saham-saham yang memiliki prospek fundamental solid, valuasi yang masih relatif undervalued, serta saham yang mulai menunjukkan sinyal pembalikan tren, dengan tetap mengedepankan manajemen risiko.
Dari sisi global, Nafan menambahkan bahwa penguatan bursa saham dunia masih ditopang oleh optimisme investor terhadap prospek pertumbuhan, terutama pada sektor teknologi dan energi. Pasar juga mencermati pernyataan Gubernur Federal Reserve Stephen Miran yang menilai kebijakan moneter saat ini masih bersifat restriktif dan berpotensi menghambat perekonomian.
“Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi bahwa pemangkasan suku bunga lebih dari 100 basis poin kemungkinan diperlukan sepanjang 2026, yang pada akhirnya dapat menjadi katalis positif bagi pasar keuangan,” katanya.
Sementara dari dalam negeri, Kementerian Keuangan RI menilai kinerja ekonomi Indonesia sepanjang 2025 cukup solid dan menjadi modal penting untuk memperkuat pertumbuhan pada 2026. Penguatan sektor ekspor, manufaktur, serta permintaan domestik akan terus didorong, sejalan dengan keberlanjutan program hilirisasi sumber daya alam, peningkatan daya saing produk ekspor, dan diversifikasi mitra dagang utama.
Sejalan dengan itu, Bloomberg Intelligence memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung stabil pada 2026, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh sekitar 5,0% secara tahunan dan inflasi terjaga di level 2,75% year-on-year. Adapun probabilitas resesi Indonesia dalam 12 bulan ke depan diperkirakan relatif rendah, sekitar 3%.
Dengan kombinasi sentimen teknikal yang positif dan fundamental makro yang relatif solid, pelaku pasar dinilai masih memiliki ruang untuk mencermati peluang di pasar saham domestik, meski tetap perlu waspada terhadap dinamika global yang berpotensi memicu volatilitas jangka pendek.

