Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak dalam fase konsolidasi atau sideways pada perdagangan Jumat (13/3/2026), seiring investor yang cenderung berhati-hati menjelang libur panjang serta meningkatnya ketidakpastian global.
IHSG pada perdagangan Kamis (12/3/2026) ditutup melemah 0,37% ke level 7.362,1, setelah sempat bergerak fluktuatif sepanjang sesi perdagangan. Tekanan yang terjadi pada indeks terutama dipengaruhi sentimen eksternal, meskipun aktivitas beli investor asing masih terlihat cukup kuat.
Data perdagangan menunjukkan investor asing masih mencatatkan net buy sebesar Rp905 miliar, dengan akumulasi pembelian terbesar pada saham sektor energi dan perbankan, seperti Adaro Energy Indonesia Tbk, Adaro Andalan Indonesia Tbk, Bank Mandiri Tbk, Indo Tambangraya Megah Tbk, dan Bank Central Asia Tbk.
Tekanan terhadap pasar juga dipicu oleh meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali mendorong kenaikan harga minyak mentah global. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran pasar terhadap potensi peningkatan inflasi global, sekaligus risiko pelebaran defisit fiskal dan neraca migas Indonesia.
Dari sisi teknikal, analis BRI Danareksa Sekuritas menilai pergerakan IHSG masih cenderung terbatas dalam rentang tertentu.
“Secara teknikal, IHSG diperkirakan masih bergerak dalam fase konsolidasi (sideways) menjelang libur panjang, dengan area support di 7.200–7.300 dan resistance di 7.400–7.500,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam riset hariannya, Jumat (13/3/2026).
Sementara itu, sentimen dari pasar global juga kurang mendukung. Indeks utama di Wall Street pada perdagangan Kamis ditutup melemah. Dow Jones Industrial Average turun 1,56% ke level 46.677,8, S&P 500 melemah 1,52% ke level 6.672,6, dan Nasdaq Composite turun 1,78% ke level 22.311,9.
Untuk perdagangan Jumat, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang berpotensi menarik untuk strategi trading jangka pendek, yaitu Adaro Andalan Indonesia Tbk, ESSA Industries Indonesia Tbk, dan Optima Prima Metal Sinergi Tbk.

