Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia diperkirakan kembali menguji level 7.480 pada perdagangan pekan ini di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Analis dari Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang resistance 7.700, pivot 7.500, dan support 7.300.
Dalam risetnya, Phintraco Sekuritas menjelaskan bahwa tekanan pasar dipicu oleh pelemahan indeks-indeks utama Wall Street pada akhir pekan lalu. Kondisi ini memperpanjang tren koreksi mingguan di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Selain itu, harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan tajam. Harga West Texas Intermediate crude oil bahkan menembus US$90 per barel, mencatat penguatan mingguan terbesar sejak perdagangan kontrak futures minyak dimulai pada 1983.
Kenaikan harga energi dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tidak akan ada kesepakatan untuk mengakhiri konflik AS–Iran tanpa “penyerahan tanpa syarat” dari Iran. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran bahwa konflik akan berlangsung lebih lama dan berpotensi mengganggu pasokan minyak global.
Situasi semakin diperburuk oleh laporan serangan Israel terhadap depot minyak Iran pada 7 Maret 2026 yang dinilai berpotensi menambah tekanan terhadap stabilitas pasokan energi global.
Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat turut memicu kekhawatiran investor. Data nonfarm payrolls tercatat turun menjadi 92 ribu pada Februari 2026, dari 126 ribu pada Januari, sementara tingkat pengangguran naik menjadi 4,4% dari 4,3%.
Menurut Phintraco Sekuritas, kombinasi perlambatan pasar tenaga kerja dan lonjakan harga energi meningkatkan risiko stagflasi, yakni kondisi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat.
Pada pekan ini, investor global akan mencermati rilis data inflasi dari Amerika Serikat dan China sebagai indikator arah kebijakan moneter global.
Sementara dari dalam negeri, pasar akan menantikan sejumlah indikator ekonomi seperti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), data penjualan ritel, serta penjualan otomotif.
Phintraco Sekuritas juga menyoroti perkembangan fiskal Indonesia. Hingga Februari 2026, defisit APBN tercatat mencapai Rp135,7 triliun atau 0,53% dari PDB, lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 0,13%.
Realisasi pendapatan negara mencapai Rp358 triliun atau 11,4% dari target APBN 2026, meningkat dari Rp317,4 triliun pada Februari 2025. Sementara belanja negara mencapai Rp493,8 triliun, naik 41,9% secara tahunan, didorong oleh program bantuan sosial, subsidi, belanja pegawai, serta belanja kementerian dan lembaga.
Di tengah dinamika tersebut, Phintraco Sekuritas merekomendasikan enam saham yang dinilai berpotensi mencetak cuan, yakni PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM), PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), serta PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).
Menurut Phintraco Sekuritas, pergerakan IHSG pada pekan ini masih akan dipengaruhi oleh sentimen global, khususnya perkembangan geopolitik, harga energi, serta data ekonomi utama dari negara-negara besar. Jika tekanan berlanjut dan IHSG menembus 7.480, indeks berpotensi menguji level support berikutnya di kisaran 7.250–7.300.

