Jakarta, (tutur.co.id) — Bursa saham Indonesia menutup 2025 dengan catatan paradoks. Di satu sisi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses melonjak 22,13% sepanjang tahun dan menegaskan daya tahan pasar modal nasional. Di sisi lain, reli tersebut terbukti rapuh dan tidak inklusif—terkonsentrasi pada segelintir sektor dan emiten, bahkan terjadi di tengah derasnya arus dana asing yang keluar.
“Pada perdagangan penutup 2025, IHSG menguat naik tipis 0,03% ke level 8.646, disertai munculnya volume pembelian. Secara teknikal, indeks masih bertahan di atas moving average 20 hari (MA20), memberi sinyal momentum jangka pendek yang tetap terjaga. Sepanjang tahun, IHSG sempat terpuruk ke level terendah 5.882 pada April 2025, sebelum reli tajam membawa indeks menyentuh rekor tertinggi 8.776 pada Desember 2025,” tutur Herditya Wicaksana, CEWA-M, Head of Research Retail MNC Sekuritas, kepada redaksi tutur.
Namun, reli ini dibayar mahal. Sepanjang 2025, pasar saham Indonesia mencatatkan outflow asing sebesar Rp17,34 triliun, menandakan bahwa penguatan IHSG lebih banyak ditopang investor domestik—sekaligus menjadi bukti pendalaman pasar (market deepening) yang mulai terbentuk.
Penguatan IHSG 2025 dipimpin oleh sektor teknologi yang mencatatkan lonjakan fantastis 138,35% secara year to date (YTD), disusul sektor industri yang melesat 108,11% YTD. Ini menandai pergeseran tajam dari siklus lama yang biasanya didominasi perbankan atau batu bara.
Reli kali ini juga memiliki DNA berbeda: terkonsentrasi pada emiten-emiten konglomerasi dan sektor-sektor yang lekat dengan agenda strategis pemerintah, mulai dari hilirisasi, transisi energi, hingga infrastruktur.
“Saham-saham di ekosistem kendaraan listrik (EV), energi baru terbarukan (EBT), dan proyek infrastruktur strategis menjadi primadona, meski sebagian di antaranya sudah diperdagangkan pada valuasi premium. Tahun 2025 adalah tahun pembuktian resiliensi pasar modal Indonesia,” Herditya memberi gambaran tentang kinerja IHSG.
Di tengah ketidakpastian geopolitik global, suku bunga tinggi berkepanjangan (higher for longer), hingga transisi kepemimpinan nasional, IHSG justru melampaui ekspektasi konservatif banyak analis di awal tahun.

HSG Kalah dari Vietnam, Bersaing Ketat dengan Singapura
Di tingkat regional, kinerja IHSG menempatkan Indonesia di peringkat ketiga bursa terbaik di ASEAN sepanjang 2025, di bawah Vietnam dan Singapura. Bursa Vietnam memimpin dengan penguatan 38,53% YTD, didorong status emerging market pasca-upgrade FTSE dan fundamental makro yang solid, termasuk pertumbuhan PDB yang diperkirakan menembus 8% pada kuartal II-2025.
Sementara itu, Singapura—yang kerap dicap defensif—mencatatkan kenaikan 22,91% YTD. Reli pasar Negeri Singa ditopang kinerja cemerlang bank-bank raksasa dengan pertumbuhan margin bunga bersih (NIM) yang kuat, serta reputasi Singapura sebagai safe haven di tengah gejolak geopolitik global.
2026: Era Baru, Risiko Baru
Memasuki 2026, menurut Herditya, peta permainan akan berubah. Narasi inflasi jinak dan pertumbuhan moderat yang mendominasi 2025 mulai memudar, digantikan isu dominasi fiskal dan eskalasi geopolitik global.
“Konsensus pasar dan proyeksi dot plot mengindikasikan The Fed akan melanjutkan siklus pelonggaran moneter pada 2026. Pemangkasan suku bunga AS berpotensi melemahkan indeks dolar (DXY), yang secara historis menjadi angin segar bagi pasar emerging market, termasuk Indonesia, melalui peluang capital inflow. Namun, risiko baru mengintai: kebijakan tarif impor AS berpotensi memicu kembali inflasi Negeri Paman Sam,” tutur Herditya.
Dari dalam negeri, investor mencermati implementasi program Asta Cita yang diharapkan mendorong konsumsi rumah tangga. Di sisi lain, risiko defisit anggaran menjadi sumber kekhawatiran. Bank Indonesia diperkirakan akan bersikap hati-hati namun tetap pro-pertumbuhan, dengan ruang terbatas untuk memangkas suku bunga pada 2026.
“Tahun 2026 menuntut investor untuk menjadi lebih cermat dan selektif. Kami melihat akan adanya beberapa sektor yang dapat menjadi cermatan para investor,” tutur Herditya lagi.
Namun, tahun 2026 bukan lagi soal ikut arus reli, melainkan soal seleksi. Sejumlah sektor dinilai layak menjadi radar investor. Pertama, sektor consumer dan ritel, yang berpotensi terdongkrak kebijakan pemerintah, termasuk program MBG, dengan efek berantai ke komoditas pangan seperti unggas, daging, dan susu. Kedua, sektor energi, didorong kombinasi kebijakan global yang pro-minyak, kebutuhan energi masif untuk data center, serta implementasi program B40 dan B50 di dalam negeri. Ketiga, sektor bahan baku (basic materials), yang masih memiliki peluang dari agenda hilirisasi dan kebutuhan logam serta bahan kimia dasar, meski sangat sensitif terhadap pergerakan harga komoditas global.
Setelah reli tajam 2025, IHSG memasuki 2026 dengan cerita baru: peluang tetap terbuka, tetapi tanpa selektivitas dan manajemen risiko, euforia bisa berubah menjadi jebakan.


1 Komentar
Keren nih analisisnya. Semoga tutur jernih bertutur ttg Indonesia