Jakarta (tutur.co.id) — Lonjakan harga minyak mentah dunia diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong harga energi global tetap tinggi, bahkan berpotensi bertahan hingga kuartal III-2026.
Laporan Macroeconomic Monitor edisi Maret 2026 dari IFG Progress mencatat, gangguan pada jalur distribusi energi global telah mengerek harga minyak melampaui US$100 per barel. Pemicu utamanya adalah eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Salah satu titik krusial adalah Selat Hormuz, jalur vital yang menyalurkan sekitar 20 juta barel minyak per hari—setara sepertiga dari total perdagangan minyak laut global—serta seperlima pasokan gas alam cair (LNG) dunia.
“Dengan terganggunya lalu lintas, harga minyak naik di atas US$100 per barel pada Maret 2026,” ujar Ibrahim Kholilul Rohman, Senior Research Associate IFG Progress dalam laporan tersebut.
Menurut IFG Progress, arah harga minyak ke depan sangat bergantung pada durasi konflik dan gangguan pasokan. Dalam skenario dasar, harga diperkirakan tetap tinggi hingga kuartal III-2026 sebelum perlahan menurun. Kondisi ini dinilai masih memungkinkan inflasi tetap terkendali dengan dampak terbatas terhadap pertumbuhan ekonomi global.
Namun, skenario yang lebih buruk dapat terjadi apabila gangguan di Selat Hormuz berlangsung berkepanjangan. Situasi tersebut berpotensi menjaga harga minyak jauh di atas level normal, memperkuat tekanan inflasi, serta meningkatkan risiko perlambatan ekonomi global yang lebih luas.
Sebaliknya, jika tercapai gencatan senjata atau solusi diplomatik, premi risiko dapat menurun. Aliran energi global pun berpeluang kembali normal, sehingga membantu menstabilkan harga dan menopang pertumbuhan ekonomi.
“Variabel kunci di semua skenario bukanlah besarnya guncangan awal, tetapi durasi dan keberlanjutan gangguan pasokan dan ketidakpastian,” jelas Ibrahim.
Bagi Indonesia, dampak konflik ini bersifat tidak langsung namun sistemik. Meski impor minyak dari Iran relatif kecil, ketergantungan pada pemasok utama seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab membuat ekonomi domestik tetap rentan terhadap gejolak harga global.
Kenaikan harga energi berpotensi memicu inflasi, menekan nilai tukar Rupiah akibat arus keluar modal, serta memperketat likuiditas. Di saat yang sama, tekanan biaya juga dapat melemahkan kinerja ekspor dan investasi, sekaligus meningkatkan beban fiskal pemerintah.
“Kenaikan biaya energi mendorong inflasi, arus keluar modal menekan rupiah, dan likuiditas semakin ketat, sementara ekspor dan investasi melemah dan beban fiskal meningkat,” imbuh Ibrahim.
Dengan dinamika tersebut, stabilitas ekonomi Indonesia ke depan sangat ditentukan oleh kemampuan meredam dampak eksternal, terutama dari volatilitas harga energi global yang masih tinggi.

