Teheran (tutur.co.id)— Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan turun drastis hingga 94 persen sejak akhir Februari 2026, memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi global. Data terbaru yang dikutip media resmi Iran, Press TV dan Tasnim News Agency pada 5 April 2026, menunjukkan jumlah kapal yang melintasi jalur strategis tersebut anjlok dari sekitar 138 kapal per hari menjadi kurang dari 10 kapal dalam beberapa hari terakhir.
Penurunan tajam ini menyebabkan antara 2.000 hingga 3.000 kapal tertahan di sekitar Selat Hormuz, menunggu izin untuk melintas di tengah pembatasan yang diberlakukan Iran.
Laporan Al Jazeera yang dikutip dalam data tersebut juga memperkirakan jumlah kapal terdampak mencapai ribuan, sementara Organisasi Maritim Internasional (IMO) menyebut sekitar 3.200 kapal terjebak di kawasan Teluk Persia. Akibatnya, hampir 20.000 awak kapal dilaporkan tertahan di laut tanpa kepastian waktu keberangkatan, memperparah tekanan pada rantai pasok global.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, sehingga gangguan di wilayah ini langsung berdampak pada lonjakan harga energi global. Sejak awal Maret 2026, hanya sekitar 181 kapal yang berhasil melintasi selat tersebut, dengan mayoritas di antaranya merupakan kapal milik Iran atau negara-negara sekutunya.
Beberapa negara seperti China, India, Pakistan, dan Turki dilaporkan masih dapat melintas setelah melakukan negosiasi langsung dengan otoritas Iran, sementara negara-negara yang dianggap terlibat dalam konflik menghadapi pembatasan ketat. Selain pembatasan, setidaknya 24 kapal komersial dilaporkan menjadi sasaran serangan di sekitar Selat Hormuz sejak 1 Maret, menyebabkan korban jiwa dan luka-luka.
Pembatasan ini diberlakukan Iran sebagai respons terhadap operasi militer Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026, dengan melarang kapal yang terkait dengan pihak tersebut melintasi jalur strategis itu.
Kombinasi antara pembatasan pelayaran dan serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk telah mendorong lonjakan tajam harga minyak dan komoditas global. Situasi ini dinilai berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap ekonomi dunia, terutama jika gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut tanpa solusi diplomatik.

