Jakarta (tutur.co.id) — Harga minyak dunia diproyeksikan melanjutkan tren kenaikan dalam waktu dekat, dipicu eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Sentimen ini juga berpotensi menekan nilai tukar rupiah yang diperkirakan melemah terhadap dolar Amerika Serikat.
Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa pembatasan jalur transportasi energi di Selat Hormuz menjadi faktor utama pendorong lonjakan harga minyak global.
“Harga minyak crude oil pada pekan depan diperkirakan bergerak di rentang US$92,3–US$112,2 per barel,” ujarnya dalam keterangan, Minggu (29/3/2026).
Sementara itu, harga minyak jenis Brent diperkirakan berada di kisaran US$110 hingga US$116 per barel. Bahkan, dalam proyeksi jangka pendek, harga Brent berpotensi menembus level US$125 per barel pada pekan berikutnya jika tensi geopolitik tidak mereda.
Berdasarkan perkembangan terkini, harga minyak Brent telah menembus US$112 per barel, sedangkan minyak mentah jenis WTI mendekati level psikologis US$100 per barel. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Di sisi lain, tekanan eksternal turut memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah saat ini berada di kisaran Rp16.980 per dolar AS.
Ibrahim memperkirakan pelemahan rupiah masih akan berlanjut dalam jangka pendek. “Kemungkinan besar, rupiah akan menuju Rp17.100 per dolar AS pada pekan depan. Indeks dolar cenderung menguat ke rentang 99,3–101,6,” katanya.
Penguatan dolar AS di tengah ketidakpastian global menjadi salah satu faktor yang membebani mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi ini juga diperparah oleh lonjakan harga energi yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi domestik.
Dengan kombinasi risiko geopolitik dan dinamika pasar global, pergerakan harga minyak dan nilai tukar diperkirakan masih akan volatil dalam beberapa waktu ke depan. Pelaku pasar pun diimbau untuk mencermati perkembangan konflik global serta arah kebijakan moneter internasional.

