Jakarta (tutur.co.id) — Harga emas batangan PT Antam Tbk (ANTM) diproyeksikan bergerak fluktuatif dalam sepekan ke depan, dengan kisaran Rp2.750.000 hingga Rp2.920.000 per gram. Di tengah dinamika global yang kian memanas, faktor geopolitik disebut menjadi penentu utama arah pergerakan logam mulia.
Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa harga emas Antam pada perdagangan Sabtu ditutup di level Rp2.837.000 per gram. Pergerakan harga dalam jangka pendek diperkirakan masih berada dalam rentang teknikal tertentu.
“Jika turun, support pertama di Rp2.815.000. Support kedua di Rp2.750.000,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (22/3/2026).
Sementara itu, dari sisi penguatan, harga emas memiliki peluang menguji resistance di level Rp2.855.000 per gram pada awal pekan. Adapun untuk sepekan ke depan, resistance berikutnya berada di kisaran Rp2.920.000 per gram.
Menurut Ibrahim, peluang harga emas Antam untuk menembus level psikologis Rp3.000.000 per gram dalam waktu dekat masih relatif kecil. “Kemungkinan besar baru akan terjadi pada pekan berikutnya, sekitar tanggal 6-7 April,” katanya.
Ia menjelaskan, eskalasi konflik geopolitik global menjadi faktor dominan yang mendorong volatilitas harga emas. Ketegangan di Timur Tengah, khususnya terkait pembatasan jalur transportasi di Selat Hormuz, menjadi salah satu pemicu utama kekhawatiran pasar.
Selain itu, konflik yang melibatkan kawasan seperti Irak, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi turut meningkatkan ketidakpastian. Di saat yang sama, serangan terhadap instalasi energi di Rusia oleh Ukraina berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas global.
“Produksi minyak dan gas berpotensi turun signifikan. Bahkan Timur Tengah saat ini mengalami pengurangan hingga 10 juta barel per hari,” ujarnya.
Ketegangan di Eropa Timur juga belum menunjukkan tanda mereda. Ibrahim menilai konflik Rusia-Ukraina masih berpotensi berlangsung dalam jangka panjang, terutama dengan adanya dukungan pihak ketiga dalam bentuk suplai senjata.
Meski demikian, berbeda dengan konflik di Eropa Timur, perang di Timur Tengah diperkirakan memiliki durasi yang lebih singkat. Ia memperkirakan konflik tersebut dapat mereda pada akhir April, yang justru akan menjadi katalis kenaikan harga emas selanjutnya.
Dari sisi politik global, dinamika di Amerika Serikat juga turut memengaruhi sentimen pasar. Penurunan tingkat kepercayaan publik terhadap Donald Trump disebut menjadi indikator meningkatnya ketidakpastian kebijakan.
Sementara itu, isu perang dagang relatif kurang mendapat perhatian pelaku pasar, yang kini lebih fokus pada eskalasi konflik di Timur Tengah. Padahal, kebijakan tarif hingga 15% terhadap sejumlah negara mitra tetap berjalan dan berpotensi memengaruhi perdagangan global.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, permintaan emas sebagai aset lindung nilai tetap solid. Bank-bank sentral global dilaporkan masih agresif menambah cadangan logam mulia sebagai strategi mitigasi risiko.
“Bank sentral optimistis bahwa harga emas dunia akan terus mengalami kenaikan,” kata Ibrahim.
Dengan kombinasi sentimen geopolitik, gangguan pasokan energi, dan permintaan lindung nilai yang tinggi, harga emas diperkirakan tetap berada dalam tren menguat, meskipun pergerakannya cenderung volatil dalam jangka pendek.

