Jakarta (tutur.co.id) — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan cenderung bergerak terbatas (sideways) pada awal pekan ini, dengan rentang 7.000 hingga 7.200. Di tengah ketidakpastian global, pelaku pasar disarankan mencermati sejumlah saham berpotensi cuan, mulai dari sektor energi hingga komoditas.
Secara teknikal, level resistance IHSG berada di kisaran 7.200, dengan support di level 7.000 dan pivot pada 7.100. Pergerakan ini mencerminkan sikap wait and see investor di tengah minimnya sentimen positif jangka pendek.
Pada penutupan perdagangan Jumat (27/3/2026), IHSG melemah 0,94% ke level 7.097. Tekanan pasar masih berasal dari ketidakpastian geopolitik, khususnya terkait dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Iran dalam upaya meredakan konflik di Timur Tengah.
Pernyataan yang saling bertolak belakang dari kedua negara memicu ketidakpastian tinggi di pasar global. Kondisi ini diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah dan gas alam, yang memicu kekhawatiran terhadap inflasi akibat potensi gangguan pasokan energi.
Dari sisi domestik, tekanan juga datang dari pelemahan nilai tukar. Rupiah di pasar spot tercatat melemah 0,45% ke level Rp16.980 per dolar AS, mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal terhadap pasar keuangan Indonesia.
Sementara itu, likuiditas domestik masih menunjukkan pertumbuhan, meskipun melambat. Data jumlah uang beredar (M2) pada Februari 2026 tumbuh 8,7% secara tahunan (year-on-year), turun dari 10% pada Januari 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan M1 sebesar 14,4% dan uang kuasi sebesar 3,1%.
Pelaku pasar kini menanti sejumlah rilis data ekonomi penting pada pekan ini. Di antaranya indeks manufaktur dari S&P Global untuk Maret 2026, neraca perdagangan Februari 2026, serta data inflasi Maret 2026 yang akan menjadi indikator arah kebijakan ke depan.
“Investor menantikan sejumlah data ekonomi domestik pekan depan. Ada rilis indeks S&P Global Manufacturing PMI Maret 2026, neraca perdagangan Februari 2026, serta inflasi Maret 2026,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
Di tengah kondisi pasar yang fluktuatif, investor dapat mencermati sejumlah saham potensial. Beberapa di antaranya berasal dari sektor energi dan tambang yang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas global, seperti PT Adaro Energy Indonesia Tbk, PT Medco Energi Internasional Tbk, PT Energi Mega Persada Tbk, PT Petrosea Tbk, PT Aneka Tambang Tbk, serta PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk.
Dengan kombinasi sentimen global dan domestik, pergerakan IHSG dalam jangka pendek diperkirakan masih terbatas. Investor pun disarankan untuk selektif dalam memilih saham, sembari mencermati perkembangan data ekonomi dan dinamika geopolitik global.

