Jakarta (tutur.co.id) – Pemerintah Indonesia bersama PT Pertamina (Persero) memperkuat komitmen kolaborasi guna menjaga ketahanan energi nasional di tengah tantangan geopolitik dan geoekonomi global yang semakin dinamis.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan kondisi geopolitik, geoekonomi, serta ketegangan politik global saat ini memicu ketidakpastian di berbagai negara, termasuk berdampak terhadap sektor energi dunia.
“Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara yang sedang bertikai, tapi hampir semua negara, bahkan hampir semua rakyat dunia, termasuk di Indonesia,” kata Bahlil dalam pembukaan IPA Convex ke-50 di ICE BSD City, berdasar keterangan tertulis yang diterima Redaksi Tutur.
Meski menghadapi tantangan global, Bahlil menyebut perekonomian Indonesia masih mampu tumbuh pada kuartal pertama 2026. Menurutnya, pemerintah terus mencari alternatif energi baru untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
“Atas arahan Presiden, harus segera mencari alternatif-alternatif energi lain yang tidak hanya mengedepankan BBM yang bersumber dari fosil,” ujarnya.
Senada dengan pemerintah, Pertamina juga menegaskan komitmennya menjaga ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya kompleksitas industri energi global, berakhirnya era easy energy, hingga gangguan rantai pasok dunia.
Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza mengatakan penguatan kolaborasi strategis, percepatan penerapan teknologi, dan optimalisasi produksi energi domestik menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional.
“Pada dasarnya, memang era easy energy sudah berlalu. Namun jika kita melihat lebih jauh, khususnya di Indonesia, kita masih memiliki peluang yang sangat besar,” kata Oki dalam sesi Global Executive Talk bertema “The End of Easy Energy: The New Reality of Oil and Gas”.
Oki juga menyoroti meningkatnya risiko gangguan pasokan energi global akibat ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur perdagangan energi utama dunia. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu volatilitas harga energi dan memengaruhi stabilitas pasokan global.
Menurutnya, Pertamina memiliki peran strategis dalam memastikan ketersediaan, keterjangkauan, dan keberlanjutan energi di seluruh Indonesia. Karena itu, peningkatan produksi minyak dan gas domestik menjadi salah satu fokus utama perusahaan.
“Hal pertama yang kami lakukan adalah meningkatkan dan memaksimalkan produksi domestik minyak dan gas,” ujarnya.
Selain meningkatkan produksi nasional, Pertamina juga memperkuat kemitraan strategis dengan berbagai perusahaan energi global untuk berbagi keahlian dan mengurangi risiko bisnis. Di sisi lain, koordinasi dengan pemerintah dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan investasi energi, termasuk melalui dukungan perpanjangan kontrak, penyesuaian skema bagi hasil, hingga pemberian insentif fiskal.
Pemanfaatan teknologi seperti supercomputer dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) juga dinilai semakin penting untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mendukung proses eksplorasi energi yang lebih akurat.
Oki menilai Indonesia masih memiliki peluang besar dalam pengembangan sektor energi, termasuk sumber daya migas nonkonvensional dan enhanced oil recovery (EOR).
“Indonesia memiliki peluang yang sangat besar. Jadi, bagi para investor, engineer, maupun regulator, Indonesia menawarkan begitu banyak peluang yang dapat dikembangkan,” tutupnya.

