Lumajang (tutur.co.id) – Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup intens. Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu tercatat mengalami puluhan gempa letusan dalam waktu singkat, menandakan dinamika alam yang perlu terus diwaspadai.
Laporan Pos Pengamatan Gunung Semeru pada Minggu (11/1/2026) pukul 12.00 hingga 18.00 WIB, tercatat 30 kali gempa letusan atau erupsi. Getaran tersebut memiliki amplitudo berkisar 15–22 milimeter dengan durasi antara 76 hingga 136 detik.
Tak hanya itu, Semeru juga mengalami satu kali gempa embusan, satu gempa tektonik jauh, serta satu kali getaran banjir dengan durasi yang cukup panjang. Aktivitas ini terekam jelas oleh alat pemantauan, meski secara visual puncak gunung tertutup kabut tebal.
Secara kasat mata, kawah Semeru tidak teramati karena tertutup kabut akibat hujan ringan. Asap kawah pun tidak terlihat, dengan kondisi cuaca dominan mendung hingga hujan dan angin bertiup lemah ke arah selatan. Meski terlihat tenang, data seismik menunjukkan aktivitas di dalam gunung masih berlangsung.
Saat ini, Gunung Semeru berada pada status level 3 atau siaga. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara, khususnya sepanjang aliran Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak.
Selain itu, warga juga diminta menjauhi radius 500 meter dari sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar yang bisa menjangkau hingga 17 kilometer dari puncak.
Aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru juga tidak direkomendasikan karena berisiko terkena lontaran batu pijar. PVMBG juga mengimbau masyarakat untuk terus mewaspadai potensi awan panas guguran, aliran lava, dan lahar, terutama di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.

