Washington (tutur.co.id) – Operasi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela direncanakan dengan sangat matang dan dirahasiakan dengan sangat ketat. Bahkan persiapannya dilakukan selama berbulan-bulan.
Pada Sabtu (3/1/2026), Presiden Donald Trump menyatakan AS telah melancarkan serangan besar-besaran terhadap Venezuela, dan Presiden Venezuela Nicolas Maduro serta istrinya, Cilia Flores, ditangkap dan dibawa keluar negeri.
“Operasi ini, yang dikenal sebagai Operasi Absolute Resolve, dilakukan secara diam-diam, tepat sasaran, dan dilaksanakan pada saat-saat paling gelap pada 2 Januari,” kata Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine.
Selama berbulan-bulan, mata-mata AS memantau gerak-gerik Maduro. Sebuah tim kecil, termasuk seorang sumber di dalam pemerintahan Venezuela mengamati gerak-gerik Maduro, termasuk jadwal tidur, menu makanan, bahkan hewan peliharaannya.
Termasuk di antaranya adalah pasukan elite AS yang membuat replika persis rumah persembunyian Maduro di Caracas untuk melatih rute masuk mereka. Rumah persembunyian Maduro itu sebagai benteng militer yang sangat kokoh di jantung Caracas.
Sejumlah media memberitakan adanya ledakan di Caracas dan mengklaim bahwa operasi tersebut dilakukan oleh anggota unit elite Delta Force. Lebih dari 150 pesawat, termasuk pesawat pengebom, jet tempur, dan pesawat pengintai, dikerahkan sepanjang malam.
Jenderal Dan Caine menyebutkan kalau operasi ini hanya dapat dilakukan oleh militer AS. Dia menambahkan bahwa selalu ada kemungkinan pasukan AS akan ditugaskan untuk melakukan misi semacam itu lagi.

