Tangerang Selatan (tutur.co.id) — Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menekankan pentingnya penguatan ekosistem film nasional melalui Santri Film Festival (SANFFEST) saat menghadiri Bedah Film SANFFEST Ramadan di Pusat Data dan Informasi Kementerian Kebudayaan, Ciputat, Tangerang Selatan, Minggu.
Menurut Fadli, SANFFEST yang dimulai sejak tahun lalu telah menjadi bagian dari program strategis kementerian untuk membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat, termasuk kalangan pesantren, dalam memajukan kebudayaan nasional.
“Santri Film Festival menjadi bagian dari upaya agar semua orang memiliki kesempatan memajukan kebudayaan Indonesia. Salah satu ekspresi budaya itu adalah seni, termasuk film,” ujarnya, seperti dilansir Antara.
Dalam forum yang dihadiri pimpinan pondok pesantren dan para santri tersebut, ia menyebut festival ini sebagai ruang strategis bagi generasi muda pesantren untuk mengekspresikan gagasan, pengalaman, dan kekayaan tradisi melalui medium film.
Fadli menjelaskan bahwa seni merupakan satu dari sepuluh Objek Pemajuan Kebudayaan yang menjadi fokus kebijakan nasional, bersama bahasa, sastra, tradisi lisan, manuskrip, ritus, adat istiadat, permainan tradisional, olahraga tradisional, dan pangan lokal. Film dinilai memiliki posisi istimewa karena mampu merangkum berbagai unsur budaya sekaligus dalam satu medium.
“Di dalam film ada seni akting, bahasa, sastra, musik, tari, wastra, bahkan kuliner. Film adalah platform yang memuat banyak unsur seni dan budaya, sekaligus paling mudah disebarluaskan di era digital,” kata Fadli.
Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah memprioritaskan lima ekosistem seni dalam manajemen talenta nasional, yakni film, musik, seni pertunjukan, seni rupa, dan sastra. Program tersebut meliputi pembibitan, lokakarya, penguatan kapasitas, hingga pendampingan oleh para maestro.
Perkembangan industri film nasional pun menunjukkan tren positif. Saat ini, film Indonesia disebut telah menguasai sekitar 67 persen pangsa pasar bioskop domestik, serta aktif berpartisipasi di berbagai ajang internasional seperti Festival Film Internasional Rotterdam, Berlin International Film Festival, dan Sundance Film Festival.
Menutup sambutannya, Fadli berharap dari lingkungan pesantren akan lahir sineas-sineas baru yang mampu membawa cerita Indonesia ke panggung dunia.
“Kekuatan film ada pada cerita, dan Indonesia tidak pernah kekurangan cerita. Santri punya pengalaman, tradisi, dan perspektif yang sangat unik,” ujarnya.

