Ningxia, China (tutur.co.id) – Perayaan lebaran di China atau Idulfitri (开斋节/Kāizhāijié) menjadi momen penting bagi komunitas Hui, khususnya di wilayah Ningxia. Di kota Guyuan, tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Muslim Hui.
Seperti di negara Muslim lainnya, Idulfitri di China diawali dengan salat Id yang digelar di masjid-masjid setempat. Warga mengenakan pakaian terbaik dan berkumpul bersama keluarga serta tetangga. Momen ini tidak hanya menjadi ibadah, tetapi juga simbol kebersamaan dan silaturahmi dalam komunitas.
Setelah ibadah, suasana lebaran di Guyuan berlanjut ke dapur-dapur keluarga. Aktivitas memasak menjadi pusat perayaan, menghadirkan berbagai hidangan khas yang hanya disajikan saat hari raya. Aroma makanan yang digoreng dan disiapkan bersama menciptakan suasana hangat khas Lebaran.
Salah satu kuliner paling ikonik adalah sǎnzi (馓子), camilan berbentuk anyaman tipis yang digoreng hingga renyah dan berwarna keemasan.
Bagi masyarakat Hui, sanzi bukan sekadar makanan ringan. Hidangan ini sering diberikan kepada anak-anak sebagai simbol kebahagiaan dan harapan agar mereka tumbuh sehat dan kuat.

Selain itu, ada juga yóuxiāng (油香), roti goreng khas yang biasanya disajikan untuk tamu. Tradisi membagikan youxiang kepada kerabat dan tetangga mencerminkan nilai kebersamaan yang kuat dalam budaya Muslim Hui.
Lebaran di Guyuan juga identik dengan hidangan berbahan dasar daging, terutama daging domba. Wilayah Ningxia dikenal sebagai pusat peternakan, sehingga menu berbasis daging domba menjadi sajian utama. Hidangan ini biasanya dimasak secara sederhana untuk mempertahankan cita rasa asli.
Melalui tradisi kuliner dan kebersamaan keluarga, masyarakat Muslim Hui di Guyuan tidak hanya merayakan Idul Fitri, tetapi juga menjaga warisan budaya yang telah bertahan lintas generasi. Lebaran di China menunjukkan bahwa meski dirayakan di lingkungan yang berbeda, makna utamanya tetap sama: kebersamaan, berbagi, dan mempererat silaturahmi.

