London (Tutur.co.id) – Sejumlah dinamika baru di Timur Tengah dinilai dapat mempengaruhi keberlangsungan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Mantan Duta Besar Inggris untuk Suriah, Peter Ford, menilai Israel kemungkinan akan berupaya menggagalkan kesepakatan tersebut, meskipun menghadapi sejumlah tantangan.
“Israel tentu akan mencoba menggagalkan upaya tersebut. Namun, mereka menghadapi dua tantangan baru. Trump tak akan mudah dimanipulasi, dan pengalaman menunjukkan Iran tak dapat dipaksa tunduk dengan pengeboman,” ujar Ford, seperti dikutip RIA Novosti.
Ia menambahkan bahwa situasi di Lebanon berpotensi menjadi hambatan utama, mengingat Israel terus melancarkan serangan terhadap target yang dikaitkan dengan kelompok Hizbullah.
Menurut Ford, meningkatnya kekuatan Iran berhadapan langsung dengan sikap keras Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang disebutnya memandang penarikan diri dari Lebanon sebagai langkah yang tidak dapat diterima. Kondisi tersebut dinilai dapat mengganggu keseimbangan kekuatan yang tengah terbentuk di kawasan.
Ketegangan ini berakar dari eskalasi konflik sejak akhir Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan serangan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Di tengah situasi tersebut, Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran, yang juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz.
Namun, dinamika di lapangan menunjukkan kompleksitas yang belum terselesaikan. Serangan Israel ke wilayah Lebanon, termasuk di kota Tyre, masih berlangsung. Washington menyatakan bahwa operasi tersebut tidak termasuk dalam cakupan kesepakatan gencatan senjata, dengan alasan adanya faktor Hizbullah.
Sebaliknya, Teheran menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah dicapai.
Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa meskipun jalur diplomasi telah dibuka, stabilitas gencatan senjata masih sangat bergantung pada perkembangan di lapangan, khususnya di wilayah yang menjadi titik konflik lanjutan seperti Lebanon.

