Jakarta (tutur.co.id) — Keikutsertaan Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia dalam World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, menandai babak baru diplomasi investasi Indonesia. Untuk pertama kalinya sejak dibentuk, lembaga pengelola investasi negara itu diboyong langsung pemerintah ke forum ekonomi paling bergengsi di dunia—sebuah panggung yang kerap menjadi arena pertemuan kepentingan modal, geopolitik, dan masa depan pembangunan global.
WEF 2026 yang berlangsung pada 19–23 Januari mendatang akan mempertemukan sekitar 3.000 peserta dari 130 negara. Di tengah tema besar “A Spirit of Dialogue”, Danantara datang membawa mandat yang tidak ringan: menjembatani agenda pembangunan nasional dengan arus modal global, tanpa kehilangan akuntabilitas publik.
Managing Director Global Relations and Governance Danantara, Mohamad Al-Arief, menyebut partisipasi ini sebagai langkah yang disiapkan secara terstruktur. Sejak pertengahan tahun lalu, Danantara telah berkoordinasi dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM untuk memetakan mitra dan agenda strategis.
“Ini kesempatan kami untuk melihat dan mengembangkan mitra-mitra baru di sana. Kami mengeksplorasi potensi long-term partnership dan adanya co-investments,” ujar Al-Arief, Kamis (15/1/2026).
Pendekatan yang dipilih Danantara bukan sekadar mencari dana segar, melainkan membangun kemitraan jangka panjang. Fokus investasinya diarahkan pada sektor prioritas nasional: transisi energi, ketahanan pangan, serta pengembangan industri bernilai tambah melalui hilirisasi. Di atas kertas, sektor-sektor ini kerap disebut sebagai tulang punggung pertumbuhan berkelanjutan Indonesia. Tantangannya, memastikan bahwa investasi yang masuk benar-benar menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi lokal, dan tidak berhenti pada jargon keberlanjutan.
Al-Arief menegaskan Danantara ingin diposisikan sebagai platform investasi strategis negara yang dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel. Pernyataan ini menjadi penting, mengingat pengalaman sejumlah sovereign wealth fund di berbagai negara yang kerap disorot publik karena tata kelola dan risiko konflik kepentingan.
Dari sisi eksternal, ekspektasi terhadap Danantara juga tinggi. Mantan Menteri Perdagangan sekaligus Kepala BKPM, Gita Wirjawan, menilai kehadiran Danantara di Davos berpotensi menjadi magnet bagi investor global. Menurutnya, status Danantara sebagai pengelola alokasi modal besar memberi daya tawar yang kuat dalam dialog langsung dengan pemilik modal internasional.
“Posisi Danantara sebagai pengelola investasi akan menarik perhatian para pelaku bisnis dan investor global. Forum WEF ini menjadi ruang untuk membangun jejaring ekonomi global,” kata Gita.
Ia bahkan menyamakan langkah strategis ini dengan keberhasilan Singapura melalui GIC dan Temasek, yang selama puluhan tahun mampu memanfaatkan pengelolaan modal negara untuk menarik kemitraan global, khususnya di sektor teknologi dan inovasi. Namun, perbandingan ini sekaligus mengandung tantangan: keberhasilan GIC dan Temasek dibangun melalui konsistensi kebijakan, disiplin tata kelola, dan kejelasan misi jangka panjang—faktor yang masih akan diuji pada Danantara.
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto yang dijadwalkan membuka peluang politik sekaligus ekonomi. Di Davos, pesan Indonesia bukan hanya soal besarnya potensi pasar atau sumber daya alam, melainkan narasi tentang bagaimana negara berkembang mengelola modal besar untuk pertumbuhan yang inklusif. Bagi Danantara, momentum ini bisa menjadi pintu masuk penting—atau sekadar etalase—tergantung pada sejauh mana komitmen investasi yang terbangun benar-benar diwujudkan setelah forum usai.
Pada akhirnya, debut Danantara di WEF 2026 bukan hanya soal tampil di panggung global. Yang lebih menentukan adalah apa yang dibawa pulang: kemitraan konkret, skema co-investment yang adil, serta pembelajaran tata kelola global. Publik akan menunggu, apakah dialog di Davos mampu diterjemahkan menjadi investasi yang berpihak pada kepentingan nasional dan kesejahteraan masyarakat luas.

