Washington (Tutur.co.id) – Pasokan senjata Amerika Serikat tampaknya mulai terkuras akibat keputusan Donald Trump menyerang Iran pada akhir Februari lalu. Meski pemerintahan Trump terkesan menutupi, namun dari update terbaru mampetnya pesanan rudal Tomahawk Jepang tentu menjadi bukti yang sulit dibantah.
Ya, dilansir dari South China Morning Post, pemerintah Jepang telah memesan ratusan rudal Tomahawk dari Amerika Serikat (AS). Namun kabar terbaru, pesanan tersebut tak kunjung datang. Padahal keberadaan rudal ini sangat vital bagi Jepang dan secara tidak langsung juga untuk menjaga kepentingan AS di Kawasan Asia Timur.
Kabar terbaru ini yang membuat banyak pengamat semakin yakin jika keputusan Trump menyerang Iran adalah kesalahan besar. Paman Sam mulai kehabisan stok untuk meladeni Iran.
Banyak pula pengamat yang menganggap keputusan Trump menyerang Iran justru telah mengorbankan banyak kepentingan AS termasuk menjaga kolega-koleganya macam Korea Selatan, Jepang hingga Taiwan yang tentu selalu terusik dengan gerak-gerik China.
Rudal Tomahawk adalah inti dari strategi baru Tokyo untuk melengkapi diri dengan kemampuan serangan jarak jauh untuk menghadapi tantangan dari China dan Korea Utara. Tetapi Washington telah memberi tahu Tokyo bahwa pengiriman untuk pesanan sekitar 400 rudal pada Maret 2028 akan terganggu.
AS memang telah meluncurkan ratusan rudal Tomahawk selama serangan terhadap Iran, menurut seseorang sumber dari dalam pemerintahan Trump yang enggan disebutkan namanya karena sensitivitas masalah tersebut.
Ada sekitar 4.000 rudal Tomahawk dalam persediaan AS sebelum perang, termasuk model lama dan varian anti-kapal. RTX memproduksi sekitar 100 rudal baru pada tahun 2025, sementara sekitar 240 model lama ditingkatkan ke standar Block V terbaru. Sumber tersebut mengatakan bahwa produksi gabungan selama lebih dari dua tahun telah digunakan sejauh ini dalam perang.
Pesanan Jepang senilai US$2,35 miliar, yang ditandatangani pada tahun 2024, adalah salah satu pesanan terbesar dari negara asing. Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengatakan pada bulan Maret bahwa pengiriman pertama Tomahawk telah diterima. Namun hingga April ini tak kunjung mendarat di Tokyo.
Tidak jelas apakah ada risiko bagi AS karena telah melewatkan tenggat waktu keseluruhan Maret 2028 untuk menyelesaikan pengiriman.

