Zurich (tutur.co.id) – Piala Dunia 2026 bukan cuma soal pertandingan dan gol, tapi juga soal perubahan aturan yang mulai jadi sorotan. Regulasi baru ini langsung memicu perdebatan di kalangan pemain pelatih, hingga penggemar sepak bola. Banyak yang menilai perubahan ini bisa mengubah dinamika permainan secara signifikan.
Dilansir dari FIFA, Rabu 6 Mei 2026, aturan baru disepakati melalui pertemuan resmi IFAB di Vancouver, Kanada. Pemain yang menutup mulut saat berdebat di lapangan kini bisa dikenai kartu merah. Selain itu, pemain yang keluar lapangan sebagai bentuk protes juga berisiko langsung dikeluarkan dari pertandingan.
Perubahan ini bukan tanpa alasan yang jelas. FIFA ingin meningkatkan transparansi dan mencegah perilaku yang dianggap tidak sportif, termasuk ucapan tersembunyi yang sulit terdeteksi. Selama ini, menutup mulut sering digunakan untuk menyembunyikan ucapan yang berpotensi melanggar aturan.
Aturan baru ini juga berkaitan dengan beberapa insiden sebelumnya di dunia sepak bola. Salah satunya adalah kasus dugaan ujaran diskriminatif yang disampaikan pemain dengan menutup mulut saat berbicara di lapangan. Situasi seperti ini mendorong federasi sepak bola untuk memperketat regulasi demi menjaga sportivitas.
Selain itu, aksi walk-out atau meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes juga menjadi perhatian serius. Dalam aturan terbaru, tindakan tersebut bisa berujung kartu merah bahkan kekalahan otomatis bagi tim jika pertandingan dihentikan. Langkah ini diambil untuk mencegah gangguan jalannya pertandingan.
Perubahan ini langsung memunculkan pro dan kontra di kalangan pengamat sepak bola. Ada yang mendukung karena dianggap bisa meningkatkan disiplin dan respek terhadap wasit. Namun, ada juga yang khawatir aturan ini terlalu ketat dan bisa disalahartikan dalam situasi tertentu.
Meski menuai perdebatan, aturan ini dipastikan akan diterapkan pada Piala Dunia 2026 yang melibatkan 48 tim. FIFA melihat ini sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas dan citra sepak bola modern. Ke depan, pertandingan tidak hanya soal skill, tetapi juga bagaimana pemain menjaga sikap di lapangan.

