Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Iran Sebut AS Telah Menginjak-injak Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB
  • Anak Hotman Luapkan Kekecewaan, Sindir Ayahnya Jadi Pengacara Febrie
  • Tutur PoV: Jangan Biarkan Penegakan Hukum Berubah Menjadi “Jeruk Makan Jeruk”
  • Bocoran Mobil Baru yang Bakal Meluncur di GIIAS 2026, Siapa Bakal Jadi Primadona?
  • Tragedi KM Nurul Salsa di Selayar: 25 Penumpang Masih Hilang, Armada Pencarian Diperkuat
  • Mampukah Messi Menaklukkan Negeri yang Membesarkan Namanya?
  • Pasca Bencana Hidrometeorologi, Pemerintah Aceh Kerja Keras Pulihkan Akses Jalan
  • Layanan Shared Services Pertamina Raih Tiga Penghargaan Global di SSOW Impact Awards AustralAsia 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Health»Selat Hormuz, Riuh di Linimasa dan Soal BBM yang Bikin Cemas

Selat Hormuz, Riuh di Linimasa dan Soal BBM yang Bikin Cemas

Health Galuh Parantri04 Maret 2026 / 19:48 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Ilustrasi kapal di Selat Hormuz (Foto: Tutur/ Ilustrasi AI)
Ilustrasi kapal di Selat Hormuz (Foto: Tutur/ Ilustrasi AI)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id)- Riuh itu datang dari jauh. Dari sebuah jalur laut sempit di antara Teluk Persia dan Laut Arab yang bernama Selat Hormuz. Di sana, kapal-kapal tanker raksasa hilir mudik membawa minyak mentah dari negara-negara produsen menuju pasar dunia. Di sini, ribuan kilometer jauhnya, warganet mulai bertanya: apakah harga BBM akan ikut melonjak?

Pertanyaan itu mengemuka setiap kali ketegangan geopolitik memanas di kawasan Timur Tengah. Selat Hormuz kerap disebut sebagai “urat nadi” perdagangan minyak global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintas di jalur ini setiap hari. Negara-negara seperti Arab Saudi, Iran, hingga Uni Emirat Arab menjadikannya pintu keluar utama ekspor energi mereka.

Karena itu, setiap kabar gangguan, entah berupa ancaman blokade, peningkatan tensi militer, atau insiden di laut pasti segera memicu reaksi pasar. Harga minyak dunia bisa bergejolak bahkan sebelum satu pun kapal benar-benar terhenti.

Pasar bereaksi bukan hanya pada peristiwa, melainkan juga pada kemungkinan.

Namun, kemungkinan tidak selalu berarti kepastian.

Antara Pasar Global dan Pompa SPBU
Harga minyak mentah dunia memang menjadi salah satu variabel penentu harga BBM. Tetapi ia bukan satu-satunya. Di Indonesia, ada kebijakan fiskal, skema subsidi, kontrak pembelian jangka panjang, hingga pengelolaan cadangan energi nasional yang ikut menentukan.

Dengan kata lain, lonjakan harga minyak global tidak otomatis menjelma menjadi kenaikan harga di papan SPBU esok harinya.

Pemerintah memiliki instrumen untuk meredam gejolak jangka pendek. Selain itu, impor minyak Indonesia tidak bertumpu pada satu sumber atau satu jalur saja. Diversifikasi pemasok dan kontrak jangka panjang menjadi bantalan ketika pasar global berguncang.

Maka, mengaitkan setiap kabar dari Selat Hormuz dengan kenaikan BBM dalam hitungan hari adalah penyederhanaan yang terlalu cepat.

Baca Juga  Video: Korupsi Masih Tinggi, Prabowo: Saya Lebih Takut Birokrat Korup Daripada Kuntilanak

Psikologi Kepanikan
Yang sering kali lebih berbahaya dari gangguan pasokan adalah persepsi tentang gangguan itu sendiri. Ketika kabar berseliweran tanpa konteks, muncul dorongan untuk “berjaga-jaga”. Sebagian orang memilih mengisi tangki penuh, bahkan menyimpan cadangan. Jika dilakukan serentak, permintaan melonjak tajam. SPBU yang semula beroperasi normal mendadak dipadati antrean.

Di titik ini, kelangkaan bisa tampak nyata—bukan karena pasokan benar-benar terhenti, melainkan karena perilaku kolektif yang berubah drastis.

Panic buying menciptakan tekanan tambahan pada rantai distribusi. Mempercepat rasa cemas yang sebenarnya belum tentu memiliki dasar kuat.

Menimbang dengan Kepala Dingin
Isu geopolitik memang tak bisa diremehkan. Selat Hormuz tetaplah simpul penting dalam peta energi dunia. Jika benar terjadi gangguan besar dan berkepanjangan, dampaknya tentu akan terasa secara global.

Namun, respons yang terburu-buru justru bisa memperkeruh situasi domestik. Yang dibutuhkan saat ini bukanlah kepanikan, melainkan kewaspadaan rasional. Memantau informasi dari sumber resmi. Membaca data, bukan sekadar judul sensasional. Menggunakan BBM sesuai kebutuhan, bukan karena dorongan takut kehabisan.
Pasar energi bergerak cepat, tetapi kebijakan publik tidak berdiri tanpa perhitungan. Ada kalkulasi, ada skenario mitigasi, ada pertimbangan sosial-ekonomi yang menyertainya.

Di tengah derasnya arus kabar dari luar negeri, mungkin yang paling penting adalah menjaga ritme di dalam negeri tetap stabil. Tangki bisa diisi seperlunya. Pikiran pun demikian, cukup oleh informasi yang terverifikasi, bukan oleh kecemasan yang belum tentu beralasan.

Riuh boleh datang dari Selat Hormuz. Tapi ketenangan, setidaknya, bisa Anda jaga dari sini.

kesehatan mental Penutupan Selat Hormuz selat hormuz Selat Hormuz ditutup
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleKenapa Perlu Menghindari Lonjakan Gula Saat Berbuka Puasa?
Next Article Pemerintah Pastikan Tidak Ada Kenaikan BBM Bersubsidi

Berita Lainnya

Video: Mensesneg Benarkan Kuntadi Diusulkan Jadi Calon Jampidsus Kejagung

15 Juli 2026 / 16:00 WIB

Video: Ada Pejabat Simpan Emas 74 Kg, Bos BCA: Kurang Pintar Aja Itu

15 Juli 2026 / 15:00 WIB

Video: Mitra BGN Ultimatum Pemerintah, Ancam Gembok Dapur MBG Secara Nasional

15 Juli 2026 / 13:00 WIB

Video: Bantah Isu Penolakan RUU Perampasan Aset, Habiburokhman: Kita Gaspol Pakai Turbo!

14 Juli 2026 / 13:00 WIB

Video: Momen Hangat Kapolri dan Jaksa Agung, Saling Sapa “Sahabat” dan “Kakak Asuh”

14 Juli 2026 / 12:00 WIB

Video: Soroti Korupsi di Lingkungan BUMN, Prabowo Beri Peringatan Keras

13 Juli 2026 / 16:00 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Video: Istana Benarkan Wamenkeu Thomas Djiwandono Diusulkan Menjadi Deputi Bank Indonesia

Satria Eko20 Januari 2026 / 12:59 WIB

Iran Sebut AS Telah Menginjak-injak Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB

18 Juli 2026 / 19:50 WIB

Anak Hotman Luapkan Kekecewaan, Sindir Ayahnya Jadi Pengacara Febrie

18 Juli 2026 / 19:37 WIB

Tutur PoV: Jangan Biarkan Penegakan Hukum Berubah Menjadi “Jeruk Makan Jeruk”

18 Juli 2026 / 19:30 WIB

Bocoran Mobil Baru yang Bakal Meluncur di GIIAS 2026, Siapa Bakal Jadi Primadona?

18 Juli 2026 / 19:25 WIB

Tragedi KM Nurul Salsa di Selayar: 25 Penumpang Masih Hilang, Armada Pencarian Diperkuat

18 Juli 2026 / 19:04 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.