Jakarta (tutur.co.id)- Riuh itu datang dari jauh. Dari sebuah jalur laut sempit di antara Teluk Persia dan Laut Arab yang bernama Selat Hormuz. Di sana, kapal-kapal tanker raksasa hilir mudik membawa minyak mentah dari negara-negara produsen menuju pasar dunia. Di sini, ribuan kilometer jauhnya, warganet mulai bertanya: apakah harga BBM akan ikut melonjak?
Pertanyaan itu mengemuka setiap kali ketegangan geopolitik memanas di kawasan Timur Tengah. Selat Hormuz kerap disebut sebagai “urat nadi” perdagangan minyak global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintas di jalur ini setiap hari. Negara-negara seperti Arab Saudi, Iran, hingga Uni Emirat Arab menjadikannya pintu keluar utama ekspor energi mereka.
Karena itu, setiap kabar gangguan, entah berupa ancaman blokade, peningkatan tensi militer, atau insiden di laut pasti segera memicu reaksi pasar. Harga minyak dunia bisa bergejolak bahkan sebelum satu pun kapal benar-benar terhenti.
Pasar bereaksi bukan hanya pada peristiwa, melainkan juga pada kemungkinan.
Namun, kemungkinan tidak selalu berarti kepastian.
Antara Pasar Global dan Pompa SPBU
Harga minyak mentah dunia memang menjadi salah satu variabel penentu harga BBM. Tetapi ia bukan satu-satunya. Di Indonesia, ada kebijakan fiskal, skema subsidi, kontrak pembelian jangka panjang, hingga pengelolaan cadangan energi nasional yang ikut menentukan.
Dengan kata lain, lonjakan harga minyak global tidak otomatis menjelma menjadi kenaikan harga di papan SPBU esok harinya.
Pemerintah memiliki instrumen untuk meredam gejolak jangka pendek. Selain itu, impor minyak Indonesia tidak bertumpu pada satu sumber atau satu jalur saja. Diversifikasi pemasok dan kontrak jangka panjang menjadi bantalan ketika pasar global berguncang.
Maka, mengaitkan setiap kabar dari Selat Hormuz dengan kenaikan BBM dalam hitungan hari adalah penyederhanaan yang terlalu cepat.
Psikologi Kepanikan
Yang sering kali lebih berbahaya dari gangguan pasokan adalah persepsi tentang gangguan itu sendiri. Ketika kabar berseliweran tanpa konteks, muncul dorongan untuk “berjaga-jaga”. Sebagian orang memilih mengisi tangki penuh, bahkan menyimpan cadangan. Jika dilakukan serentak, permintaan melonjak tajam. SPBU yang semula beroperasi normal mendadak dipadati antrean.
Di titik ini, kelangkaan bisa tampak nyata—bukan karena pasokan benar-benar terhenti, melainkan karena perilaku kolektif yang berubah drastis.
Panic buying menciptakan tekanan tambahan pada rantai distribusi. Mempercepat rasa cemas yang sebenarnya belum tentu memiliki dasar kuat.
Menimbang dengan Kepala Dingin
Isu geopolitik memang tak bisa diremehkan. Selat Hormuz tetaplah simpul penting dalam peta energi dunia. Jika benar terjadi gangguan besar dan berkepanjangan, dampaknya tentu akan terasa secara global.
Namun, respons yang terburu-buru justru bisa memperkeruh situasi domestik. Yang dibutuhkan saat ini bukanlah kepanikan, melainkan kewaspadaan rasional. Memantau informasi dari sumber resmi. Membaca data, bukan sekadar judul sensasional. Menggunakan BBM sesuai kebutuhan, bukan karena dorongan takut kehabisan.
Pasar energi bergerak cepat, tetapi kebijakan publik tidak berdiri tanpa perhitungan. Ada kalkulasi, ada skenario mitigasi, ada pertimbangan sosial-ekonomi yang menyertainya.
Di tengah derasnya arus kabar dari luar negeri, mungkin yang paling penting adalah menjaga ritme di dalam negeri tetap stabil. Tangki bisa diisi seperlunya. Pikiran pun demikian, cukup oleh informasi yang terverifikasi, bukan oleh kecemasan yang belum tentu beralasan.
Riuh boleh datang dari Selat Hormuz. Tapi ketenangan, setidaknya, bisa Anda jaga dari sini.

