Jakarta (Tutur.co.id) – Ironi. Saat pasar otomotif tanah air tengah dalam kondisi tidak baik-baik saja, PT Agrinas Pangan Nusantara, sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), justru berencana mengimpor kendaraan dari India dalam jumlah besar. Total 105.000 kendraan niaga akan didatangkan.
Dari total 105 ribu kendaraan niaga yang akan diimpor tersebut datang dari dua pabrikan otomotif Mahindra dan Tata Motors. Langkah ini tentu sangat mengejutkan mengingat kondisi pasar otomotif nasional tengah mengalami tekanan dan penurunan penjualan.
Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa total penjualan whole sales mobil nasional sepanjang tahun 2025 sekitar 803.687 unit, turun sekitar 7,2 % dibanding tahun sebelumnya. Sedangkan penjualan ritel ke konsumen akhir juga turun sekitar 6,3 %, hanya mencapai 833.692 unit.
Dari keterangan tertulis yang redaksi terima, Mahindra yang memang menjadi salah satu raksasa otomotif India akan mengirim sebanyak 35.000 unit pickup Mahindra Scorpio. Sedangkan Tata Motors akan mengekspor sebanyak 70.000 unit kendaraan yang terdiri dari 35.000 unit pickup Tata Yodha dan 35.000 unit truk ringan Tata Ultra T.7.
Impor besar-besaran ini dilakukan Agrinas untuk memperkuat rantai logistik pertanian dan distribusi. Kendaraan tersebut diklaim akan digunakan oleh koperasi untuk mengangkut hasil panen, logistik rantai pasok desa, serta menghubungkan pusat produksi dengan pasar secara lebih efisien.
Kritik dan Kekhawatiran Industri Otomotif Nasional
Keputusan impor dalam jumlah besar ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku industri nasional. Kritik utama datang dari sektor industri otomotif dalam negeri sendiri yang sudah memiliki kapasitas produksi pikap dan truk ringan melalui berbagai pabrikan seperti Astra Daihatsu Motor, Isuzu Astra Motor Indonesia, Mitsubishi Motor Krama Yudha Indonesia, Suzuki Indomobil Motor, SGMW Motor Indonesia, Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), dan Sokonindo Automobile.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bahkan menyoroti bahwa apabila kebutuhan kendaraan niaga tersebut dipenuhi oleh produsen dalam negeri, akan ada manfaat besar berupa nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja lokal. Sebaliknya, impor massal membawa keuntungan ekonomi ke luar negeri, menempatkan industri domestik dalam posisi kurang menguntungkan.
Analisis industri juga menyebut bahwa volume impor ini hampir sebanding atau mendekati angka total pasar pikap nasional dalam satu tahun, yang bisa berarti bahwa permintaan dalam negeri sebenarnya berpotensi dipenuhi oleh produksi lokal.

