Jakarta (tutur.co,id) — Bank Indonesia memastikan inflasi tetap terjaga menjelang momentum Ramadan dan Idulfitri 2026. Otoritas moneter menilai tekanan harga yang muncul pada awal tahun lebih banyak dipengaruhi faktor teknis (base effect), bukan lonjakan permintaan domestik yang berlebihan.
Deputi Gubernur BI Aida Suwandi Budiman mengatakan inflasi pada Januari 2026 yang tercatat sebesar 3,55% secara tahunan (year on year/yoy) terutama disebabkan dampak perbandingan rendahnya basis harga tahun lalu, menyusul kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga 50% pada Januari–Februari 2025.
“Bagaimana kondisi untuk di bulan Ramadan dan Lebaran ini? Semuanya masih terjaga,” ujar Aida dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Februari 2026, Kamis (19/2/2026).
Inflasi Inti Tetap Rendah
Di tengah kenaikan inflasi umum, inflasi inti justru tercatat tetap rendah di level 2,45% (yoy). BI menilai kondisi tersebut mencerminkan kapasitas perekonomian yang masih memadai untuk mengakomodasi peningkatan aktivitas ekonomi tanpa memicu tekanan harga berlebihan.
Menurut Aida, stabilitas inflasi inti didukung oleh: Konsistensi suku bunga kebijakan moneter dalam menjangkar ekspektasi inflasi, Permintaan domestik yang tumbuh moderat, dan Imported inflation yang tetap terkendali.
Ke depan, BI meyakini inflasi 2026 dan 2027 akan menurun dan tetap berada dalam kisaran target 2,5±1%. Proyeksi ini menjadi sinyal positif bagi pelaku pasar dan dunia usaha yang tengah bersiap menghadapi puncak konsumsi musiman Ramadan dan Lebaran.
Volatile Food Dijaga Lewat Sinergi TPIP–TPID
Dari sisi harga pangan bergejolak (volatile food), BI memperkirakan tekanan tetap terkendali. Hal ini ditopang sinergi erat antara BI dengan pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID).
Selain itu, implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) diperkuat, terutama dalam menjaga pasokan dan kelancaran distribusi.
“Perbedaannya dengan GNPIP, di sini kita lebih kuat lagi bagaimana untuk menjaga ketahanan pangannya melalui pasokan dan juga kelancaran distribusi,” kata Aida.
Saat ini Indonesia memasuki musim panen sejumlah komoditas hortikultura seperti bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit. Hingga pertengahan Februari, harga komoditas tersebut masih dalam kisaran proyeksi BI.
Antisipasi Lonjakan Musiman
Secara historis, Ramadan dan Lebaran kerap memicu peningkatan permintaan bahan pangan dan transportasi. Namun, BI memastikan monitoring dilakukan secara intensif untuk menjaga stabilitas harga.
Kenaikan inflasi pada Januari–Februari 2026 dinilai bersifat temporer akibat faktor statistik, bukan tekanan fundamental.
“Mudah-mudahan ini akan terus terjaga sampai dengan bulan Maret. Januari–Februari ini agak sedikit tinggi, tapi karena dampak diskon listrik tahun lalu,” ujar Aida.
Dengan kombinasi kebijakan moneter yang konsisten dan koordinasi fiskal-daerah yang solid, BI optimistis stabilitas harga tetap terjaga, sekaligus memberi ruang bagi pemulihan daya beli masyarakat menjelang hari besar keagamaan.

