Jakarta (tutur.co.id) — Pergerakan harga emas dan perak kembali dilanda volatilitas ekstrem setelah aksi jual tajam mengguncang pasar logam mulia pada pekan lalu. Meski fluktuasi harga masih tinggi dan belum mampu menembus level resistensi krusial, para analis menilai fondasi fundamental yang menopang tren jangka panjang emas dan perak tetap solid.
Dikutip dari Kitco, optimisme tersebut muncul di tengah kondisi pasar global yang masih jauh dari stabil. Pada perdagangan Jumat (6/2/2026), harga emas gagal mempertahankan penguatan di atas level psikologis US$5.000 per ons troi. Kendati demikian, emas ditutup melonjak 3,99% ke posisi US$4.961,15 per ons troi.
Sementara itu, pergerakan harga perak tercatat jauh lebih liar. Harga perak spot belum mampu bertahan di atas US$90 per ons, namun berhasil mencatatkan lonjakan signifikan. Pada akhir perdagangan Jumat, perak ditutup melesat 9,43% ke level US$78,01 per ons.
Analis Komoditas Commerzbank Barbara Lambrecht menilai pelaku pasar masih mencari arah yang jelas di tengah ketidakpastian global yang terus membayangi. Menurutnya, volatilitas tinggi kemungkinan masih akan bertahan dalam waktu dekat.
“Fluktuasi harga kemungkinan tetap tinggi. Namun, untuk jangka menengah, kami melihat harga logam mulia masih memiliki penopang fundamental yang kuat,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Senior Market Analyst Pepperstone Michael Brown. Ia mencatat volatilitas tersirat perak untuk tenor satu bulan kini bahkan melampaui volatilitas Bitcoin—sebuah sinyal tingginya spekulasi di pasar.
Meski demikian, Brown menilai fase konsolidasi dalam rentang lebar justru membuka peluang akumulasi. “Yang penting, harga spot masih bertahan di atas rata-rata pergerakan 50 hari. Ini menunjukkan momentum masih sedikit berpihak pada kubu bullish,” ujarnya. Ia menambahkan, pasar membutuhkan periode pergerakan mendatar guna meredam euforia spekulatif yang sempat melanda logam mulia.
Senior Market Analyst XS.com Rania Gule menilai volatilitas emas dan perak mencerminkan ketidakpastian mendalam di kalangan investor. Sentimen tersebut dipicu oleh kekhawatiran inflasi dan resesi global, perubahan ekspektasi kebijakan moneter, serta meningkatnya risiko geopolitik.
Menurut Gule, meski harga emas berpotensi bertahan di bawah US$5.000 per ons troi dalam waktu dekat, peluang menuju US$6.000 per ons troi hingga akhir tahun masih terbuka.
“Pendorong bullish belum sepenuhnya habis. Namun, investor kini lebih selektif dan berhati-hati. Kenaikan harga ke depan kemungkinan tidak lagi impulsif, melainkan disertai koreksi dan lebih didorong faktor fundamental dibandingkan spekulasi,” jelasnya. Ia menegaskan pasar logam mulia saat ini berada dalam fase reposisi, bukan pembalikan tren.
Optimisme juga datang dari Market Analyst Solomon Global Nick Cawley. Ia menilai volatilitas yang terjadi saat ini bersifat jangka pendek dan merupakan bagian dari proses normal setelah reli tajam.
“Saya memperkirakan level US$5.000 per ons troi akan kembali ditembus dalam beberapa pekan ke depan, dengan potensi uji ulang area US$5.600 per ons troi pada kuartal II. Koreksi setelah reli kuat adalah hal yang sehat, dan secara teknikal prospeknya masih positif,” ujarnya.
Prediksi Harga Emas
Chief Market Analyst FP Markets Aaron Hill memperkirakan harga emas akan bergerak dalam kisaran US$4.700–US$5.000 per ons seiring meredanya volatilitas. Meski demikian, ia mengingatkan risiko koreksi jangka pendek masih sedikit lebih besar lantaran sebagian besar sentimen positif telah tercermin dalam harga.
“Agar emas kembali benar-benar bullish, pasar membutuhkan katalis baru, seperti data ekonomi yang lebih lemah, kepastian pemangkasan suku bunga, atau meningkatnya ketegangan geopolitik,” kata Hill.
Sementara itu, Chief Investment Officer Zaye Capital Markets Naeem Aslam tidak menutup kemungkinan harga emas terkoreksi hingga US$3.800 per ons troi untuk membentuk dasar baru. Meski begitu, ia menilai level harga saat ini masih menarik untuk akumulasi bertahap.
“Harga masih jauh di bawah rekor tertinggi. Dengan asumsi rekor tertinggi tahun ini akan lebih tinggi dari saat ini, memanfaatkan peluang beli tetap masuk akal,” ujarnya.
Di tengah optimisme tersebut, para analis mengingatkan volatilitas diperkirakan tetap tinggi pada pekan ini. Pasar mencermati rilis data ketenagakerjaan dan inflasi Amerika Serikat yang tertunda—dua indikator utama yang menjadi perhatian Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan moneternya.
Pasar saat ini memperkirakan The Fed akan kembali melonggarkan kebijakan moneter pada Juni. Namun, data ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi menunda langkah tersebut dan menjadi sentimen negatif bagi harga emas.
Di luar Amerika Serikat, perhatian investor juga tertuju pada pemilu Jepang. Hasil pemilu berpotensi mengarah pada kebijakan fiskal yang lebih ekspansif, termasuk pemangkasan pajak dan peningkatan belanja pemerintah, di tengah beban utang publik Jepang yang sudah sangat besar.
Kebijakan tersebut dikhawatirkan dapat menekan pasar obligasi pemerintah Jepang, melemahkan yen, serta menyulitkan upaya Bank of Japan menormalisasi kebijakan moneternya. Dalam kondisi ini, emas dinilai berpeluang kembali diburu investor global sebagai aset lindung nilai, terutama di tengah risiko pelemahan mata uang dan meningkatnya kekhawatiran keberlanjutan utang negara.
Agenda Data Ekonomi Pekan Ini:
Minggu: Pemilu Jepang
Selasa: Penjualan Ritel AS
Rabu: Nonfarm Payrolls AS
Kamis: Klaim Pengangguran Mingguan AS & Penjualan Rumah Existing
Jumat: Indeks Harga Konsumen (CPI) AS

