Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Tiga Faktor yang Bisa Membuat Tembok Baja Spanyol Ambruk
  • Iran Sebut AS Telah Menginjak-injak Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB
  • Anak Hotman Luapkan Kekecewaan, Sindir Ayahnya Jadi Pengacara Febrie
  • Tutur PoV: Jangan Biarkan Penegakan Hukum Berubah Menjadi “Jeruk Makan Jeruk”
  • Bocoran Mobil Baru yang Bakal Meluncur di GIIAS 2026, Siapa Bakal Jadi Primadona?
  • Tragedi KM Nurul Salsa di Selayar: 25 Penumpang Masih Hilang, Armada Pencarian Diperkuat
  • Mampukah Messi Menaklukkan Negeri yang Membesarkan Namanya?
  • Pasca Bencana Hidrometeorologi, Pemerintah Aceh Kerja Keras Pulihkan Akses Jalan
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Makro»IHSG 2025 Ngegas 22%: Kalah dari Vietnam dan Tren Reli Konglomerasi

IHSG 2025 Ngegas 22%: Kalah dari Vietnam dan Tren Reli Konglomerasi

Makro Adi P31 Desember 2025 / 11:05 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Herditya Wicaksana, CEWA-M. Head of Research Retail MNC Sekuritas. (Foto: Dok. Pribadi)
Herditya Wicaksana, CEWA-M. Head of Research Retail MNC Sekuritas. (Foto: Dok. Pribadi)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta, (tutur.co.id) — Bursa saham Indonesia menutup 2025 dengan catatan paradoks. Di satu sisi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses melonjak 22,13% sepanjang tahun dan menegaskan daya tahan pasar modal nasional. Di sisi lain, reli tersebut terbukti rapuh dan tidak inklusif—terkonsentrasi pada segelintir sektor dan emiten, bahkan terjadi di tengah derasnya arus dana asing yang keluar.

“Pada perdagangan penutup 2025, IHSG menguat naik tipis 0,03% ke level 8.646, disertai munculnya volume pembelian. Secara teknikal, indeks masih bertahan di atas moving average 20 hari (MA20), memberi sinyal momentum jangka pendek yang tetap terjaga. Sepanjang tahun, IHSG sempat terpuruk ke level terendah 5.882 pada April 2025, sebelum reli tajam membawa indeks menyentuh rekor tertinggi 8.776 pada Desember 2025,” tutur Herditya Wicaksana, CEWA-M, Head of Research Retail MNC Sekuritas, kepada redaksi tutur.

Namun, reli ini dibayar mahal. Sepanjang 2025, pasar saham Indonesia mencatatkan outflow asing sebesar Rp17,34 triliun, menandakan bahwa penguatan IHSG lebih banyak ditopang investor domestik—sekaligus menjadi bukti pendalaman pasar (market deepening) yang mulai terbentuk.

Penguatan IHSG 2025 dipimpin oleh sektor teknologi yang mencatatkan lonjakan fantastis 138,35% secara year to date (YTD), disusul sektor industri yang melesat 108,11% YTD. Ini menandai pergeseran tajam dari siklus lama yang biasanya didominasi perbankan atau batu bara.

Reli kali ini juga memiliki DNA berbeda: terkonsentrasi pada emiten-emiten konglomerasi dan sektor-sektor yang lekat dengan agenda strategis pemerintah, mulai dari hilirisasi, transisi energi, hingga infrastruktur.

“Saham-saham di ekosistem kendaraan listrik (EV), energi baru terbarukan (EBT), dan proyek infrastruktur strategis menjadi primadona, meski sebagian di antaranya sudah diperdagangkan pada valuasi premium. Tahun 2025 adalah tahun pembuktian resiliensi pasar modal Indonesia,” Herditya memberi gambaran tentang kinerja IHSG.

Baca Juga  Banjir Hampir 1 Meter Rendam Kawasan Cilandak

Di tengah ketidakpastian geopolitik global, suku bunga tinggi berkepanjangan (higher for longer), hingga transisi kepemimpinan nasional, IHSG justru melampaui ekspektasi konservatif banyak analis di awal tahun.

Grafik Perdagangan Saham (IHSG) Sepanjang Tahun 2025. (Sumber: TradingView)

HSG Kalah dari Vietnam, Bersaing Ketat dengan Singapura

Di tingkat regional, kinerja IHSG menempatkan Indonesia di peringkat ketiga bursa terbaik di ASEAN sepanjang 2025, di bawah Vietnam dan Singapura. Bursa Vietnam memimpin dengan penguatan 38,53% YTD, didorong status emerging market pasca-upgrade FTSE dan fundamental makro yang solid, termasuk pertumbuhan PDB yang diperkirakan menembus 8% pada kuartal II-2025.

Sementara itu, Singapura—yang kerap dicap defensif—mencatatkan kenaikan 22,91% YTD. Reli pasar Negeri Singa ditopang kinerja cemerlang bank-bank raksasa dengan pertumbuhan margin bunga bersih (NIM) yang kuat, serta reputasi Singapura sebagai safe haven di tengah gejolak geopolitik global.

2026: Era Baru, Risiko Baru

Memasuki 2026, menurut Herditya, peta permainan akan berubah. Narasi inflasi jinak dan pertumbuhan moderat yang mendominasi 2025 mulai memudar, digantikan isu dominasi fiskal dan eskalasi geopolitik global.

“Konsensus pasar dan proyeksi dot plot mengindikasikan The Fed akan melanjutkan siklus pelonggaran moneter pada 2026. Pemangkasan suku bunga AS berpotensi melemahkan indeks dolar (DXY), yang secara historis menjadi angin segar bagi pasar emerging market, termasuk Indonesia, melalui peluang capital inflow. Namun, risiko baru mengintai: kebijakan tarif impor AS berpotensi memicu kembali inflasi Negeri Paman Sam,” tutur Herditya.

Dari dalam negeri, investor mencermati implementasi program Asta Cita yang diharapkan mendorong konsumsi rumah tangga. Di sisi lain, risiko defisit anggaran menjadi sumber kekhawatiran. Bank Indonesia diperkirakan akan bersikap hati-hati namun tetap pro-pertumbuhan, dengan ruang terbatas untuk memangkas suku bunga pada 2026.

Baca Juga  Video: Operasi Damai Cartenz Pindahkan 3 DPO KKB Yahukimo ke Jayapura

“Tahun 2026 menuntut investor untuk menjadi lebih cermat dan selektif. Kami melihat akan adanya beberapa sektor yang dapat menjadi cermatan para investor,” tutur Herditya lagi.

Namun, tahun 2026 bukan lagi soal ikut arus reli, melainkan soal seleksi. Sejumlah sektor dinilai layak  menjadi radar investor. Pertama, sektor consumer dan ritel, yang berpotensi terdongkrak kebijakan pemerintah, termasuk program MBG, dengan efek berantai ke komoditas pangan seperti unggas, daging, dan susu. Kedua, sektor energi, didorong kombinasi kebijakan global yang pro-minyak, kebutuhan energi masif untuk data center, serta implementasi program B40 dan B50 di dalam negeri. Ketiga, sektor bahan baku (basic materials), yang masih memiliki peluang dari agenda hilirisasi dan kebutuhan logam serta bahan kimia dasar, meski sangat sensitif terhadap pergerakan harga komoditas global.

Setelah reli tajam 2025, IHSG memasuki 2026 dengan cerita baru: peluang tetap terbuka, tetapi tanpa selektivitas dan manajemen risiko, euforia bisa berubah menjadi jebakan.

Bursa Saham Herditya Wicaksana IHSG MBG MNC Sekuritas Saham The Fed
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleLiverpool Bidik Jan Paul van Hecke untuk Bursa Transfer Januari 2026
Next Article Cristiano Ronaldo Mengejar 1.000 Gol Sebelum Gantung Sepatu

Berita Lainnya

Menkeu Purbaya: Rupiah Melemah karena Faktor Global, Penguatan UMKM Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi

17 Juli 2026 / 09:55 WIB

IHSG Diproyeksikan Lanjut Menguat, Phintraco Rekomendasikan BBCA, ICBP, EXCL, TKIM, dan SMGR

17 Juli 2026 / 08:21 WIB

IHSG Berpeluang Lanjut Menguat ke 6.130, ANTM, ARTO, dan ARCI Jadi Rekomendasi BRI Danareksa

17 Juli 2026 / 07:58 WIB

IHSG Berpeluang Lanjut Menguat, MNC Sekuritas Rekomendasikan INCO, INDY, ISAT, dan OASA

17 Juli 2026 / 04:27 WIB

Presiden Beri Waktu Satu Bulan untuk BGN Benahi Tata Kelola MBG

16 Juli 2026 / 22:51 WIB

Presiden Paksa Semua Kementerian Dukung BGN Sukseskan MBG

16 Juli 2026 / 22:48 WIB

1 Komentar

  1. Damar on 31 Desember 2025 / 20:09 WIB 20:09

    Keren nih analisisnya. Semoga tutur jernih bertutur ttg Indonesia

    Reply
Form Komentar Cancel Reply

Marc Terjatuh, Alex Marquez Juara di MotoGP Spanyol

Deba Salamah26 April 2026 / 21:30 WIB

Tiga Faktor yang Bisa Membuat Tembok Baja Spanyol Ambruk

19 Juli 2026 / 02:00 WIB

Iran Sebut AS Telah Menginjak-injak Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB

18 Juli 2026 / 19:50 WIB

Anak Hotman Luapkan Kekecewaan, Sindir Ayahnya Jadi Pengacara Febrie

18 Juli 2026 / 19:37 WIB

Tutur PoV: Jangan Biarkan Penegakan Hukum Berubah Menjadi “Jeruk Makan Jeruk”

18 Juli 2026 / 19:30 WIB

Bocoran Mobil Baru yang Bakal Meluncur di GIIAS 2026, Siapa Bakal Jadi Primadona?

18 Juli 2026 / 19:25 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.